ULAMA- ULAMA REVOLUSIONER PERGERAKAN BANTEN


ULAMA- ULAMA REVOLUSIONER PERGERAKAN  BANTEN

 

Oleh Heryadi Bin Syarifudin

Pemerhati Sejarah Local Banten, The Journey Of Banten Pakidulan

Email: heryadiheri9@gmail.com

 

“The most highly esteemed leaders of the intellectual movement originate in most cases from Banten”,

Sebagian besar asal para ulama paling dihormati, penggagas gerakan intelektual berasal dari Banten”

      (Snouck Hurgronje)

 

LATAR BELAKANG

Pandangan pergerakan ulama Banten , merupakan sebuah tantangan kolektif (collective challenge) dari ulama. Adanya tantangan yang mengharuskan dipilihnya perlawanan melalui aksi langsung terhadap pemegang otoritas, kelompok atau aturan kultural lainnya. Agenda tersebut merupakan cara untuk menarik perhatian konstituen, pihak ketiga atau pihak lawan. Ditambah adanya tujuan bersama (common purpose). Adanya klaim bersama untuk menentang pihak lawan, pemegang otoritas atau elit, merupakan tujuan berpartisipasinya masyarakat dalam gerakan. Ketiga, solidaritas sosial (social solidarity). Gerakan sosial akan terjadi jika pemimpin atau aktor menggali lebih dalam solidaritas sosial. Solidaritas yang dimiliki suatu kelompok dapat membentuk identitas yang biasanya bersumber dari nasionalisme, etnisitas, dan keyakinan agama. Keempat, memelihara interaksi (sustained interaction). Ciri ini menunjukkan pemeliharaan aksi kolektif dalam interaksi dengan pihak lawan. Pemeliharaan interaksi ini merupakan faktor penting yang menandai sebuah penentangan dan berubah menjadi gerakan sosial. Sedangkan ciri-ciri dari gerakan keagamaan di Indonesia secara singkat yaitu “messinaistic, millenaristic, nativistic, ramalan-ramalan, ide perang suci, kebencian kepada kebudayaan yang bersifat asing, megico-mysticism dan pujaan kepada nenek moyang”. Dengan teori tersebut di atas, terdapat pernyataan masalah (problem statement) dari tulisan ini bahwa kelahiran PERGERAKAN ULAMA DI BANTEN pada masa kolonial merupakan suatu bentuk gerakan sosial.

 

  1. MUKADIMAH

Penguasa Banten pertama kali menggunakan gelar Sultan ketika Banten muncul sebagai kekuatan besar di awal abad ketujuh belas, sekitar seratus tahun setelah berdirinya negara mereka. Tetapi selama periode ekspansi VOC perdagangan Banten menderita dan, pada abad kedelapan belas, Perusahaan VOC secara bertahap mengurangi kemerdekaan dan kedaulatan kesultanan Banten, sampai pada tahun 1752 Sultan Banten secara resmi mengakui kekuasaan VOC.    

Kemudian pada tahun 1808, H. W. Daendels, Gubernur Jenderal, mendeklarasikan Banten sebagai bagian dari wilayah pemerintahan, melakukan berbagai reformasi dan menempatkan Sultan dan pemerintahannya di bawah kendali ketat koloni nya. Sejak dekade sebelumnya banten telah menyaksikan perang suksesi dan banyak perselisihan internal, Sultan tidak dalam posisi untuk melawan. Dengan perluasan kendali Belanda, bangsawan lokal menghadapi kehilangan keuntungan mereka serta prospek niaga mereka, atas tindakan dari para pejabat VOC yang mereka sebuat kaum kafir., dan oposisi mereka membuat Batavia sulit beberapa tahun berikutnya. Dalam upaya untuk memperketat kontrol, Stanford Raffles, Letnan Gubernur Jawa Inggris, bahkan menghapuskan kekuasaan politik Kesultanan pada tahun 1813 dan mengkerdilkan  banten menjadikan  sebagai Karesidenan, meskipun Sultan tetap mempertahankan gelarnya dan menerima hadiah serta tunjangan yang berharga.