ANTARA KONFLIK DAN POTENSI RENPAH-REMPAH BANTEN MASA KOLONIAL 1600-1930


ANTARA KONFLIK DAN POTENSI REMPAH-REMPAH BANTEN

MASA KOLONIAL 1600-1930

Arcives : heryadi bin syarifudin

 

  1. JALUR HULU REMPAH DUNIA

Sebuah kutukan nusantara untuk Lada atau merica  hingga mempunyai sebutan yang mendunia The King of Spice (Raja Rempah-Rempah) yang mana kebutuhan lada di dunia pada abad 16 menjadi rebutan bangsa kolonialis Eropah.

perkebunan lada berkembang terutama di masa kekuasaan Kesultanan Banten. Wilayah kekuasaan Banten meliputi wilayah ujung barat Pulau Jawa dan Lampung yang berada di wilayah paling selatan Pulau Sumatera.

Pengorganisasian penanaman lada oleh kerajaan - kerajaan yang besar seperti Kesultanan Aceh dan Banten menyebabkan komoditi ini tidak dapat dimonopoli oleh kekuatan Barat, terutama Belanda, yang mulai mendirikan koloni di Indonesia sejak awal abad 17.

(Kegiatan pertanian di Banten di Abad ke-17 dibahas dalam Johan Talens, Een feodale samenleving in koloniaal vaarwater: Staatsvorming. Koloniale expansie en economische onderontwikkelin in Banten, West Java (1600-1750) (Hilversum: Verloren, 1999), hlm. 39-46. )

Dalam hal tulisan ini  akan membahas perjalanan panjang route-route langkah sang merica bin lada ini hingga membuat para kolonialisme erofah mabuk kepayang, dan menghalalkan segala cara untuk mempersunting nayi merica bin lada yang mempesona ini.

Pada masa kolonialisasi inggris dan belanda , banyak rute khusus yang sengaja di bangun oleh Daendels pada masa itu terutama daerah pusat Kabupaten karena untuk mempermudah transportasi pengangkutan rempah-rempah keluar daerah tersebut.

Banten merupakan tempat yang paling banyak memiliki cabang-cabang Jalan Deandels sebab Banten cukup banyak menghasilkan rempah-rempah. Anyer dijadikan titik km nol karena kota ini sudah di pola Daendels untuk mempermudahkan pengangkutan hasil bumi dari Banten menuju dua pelabuhan yaitu pelabuhan Merak dan Pelabuhan Ujung Kulon. Banten sendiri sudah dilokalisasi dalam segi hasil bumi oleh Daendels karena Banten Subur dan Kaya akan hasil buminya terutama rempah-rempah.

Dalam sejarahnya, Indonesia sudah dikenal sebagai pemasok sekitar 80 persen dari kebutuhan lada dunia sebelum Perang Dunia II. Bahkan, selama masa penjajahan Belanda pada abad ke-18, lada mampu menyumbang sebesar dua per tiga dari keuntungan yang diperoleh pemerintah kolonial (VOC).

Selama abad ke-18, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (disingkat VOC) memantapkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi dan politik di pulau Jawa setelah runtuhnya Kesultanan Mataram. Perusahaan dagang Belanda ini telah menjadi kekuatan utama di perdagangan Asia sejak awal 1600-an, tetapi pada abad ke-18 mulai mengembangkan minat untuk campur tangan dalam politik pribumi di pulau Jawa demi meningkatkan kekuasaannya pada ekonomi lokal.

Namun korupsi, manajemen yang buruk dan persaingan ketat dari Inggris (East India Company) mengakibatkan runtuhnya VOC menjelang akhir abad ke-18. Pada tahun 1796, VOC akhirnya bangkrut dan kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah Belanda. Akibatnya, harta dan milik (aset) VOC di Nusantara jatuh ke tangan RATU mahkota Belanda pada tahun 1800. Namun, ketika Perancis menduduki Belanda antara tahun 1806 dan 1815, aset-aset tersebut dipindahkan ke tangan Inggris. Setelah kekalahan Napoleon di Waterloo diputuskan bahwa sebagian besar wilayah Nusantara kembali ke tangan Belanda.

 

 

  • Lokasi peper baai / teluk lada banten

kota perdagangan Kepulauan Indonesia menempati posisi yang strategis yaitu terletak dalam jaringan perdagangan yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Karena wilayahnya terletak di tengah diantara Samudra Hindia, Laut Cina Selatan, dan Samudera Pasifik dunia Melayu sangat kuat berkarakteristik maritim, di mana laut menjadi sarana utama dalam pertukaran budaya dan kegiatan ekonomi.

Sejak awal abad masehi berbagai pemukiman berupa kotakota pelabuhan bermunculan di Kepulauan Indonesia di lokasi-lokasi yang strategis yang terletak di teluk-teluk yang terlindung atau di muara-muara sungai. Meskipun tidak semua pemukiman dan kota-kota pelabuhan tersebut menjadi pusat kegiatan perdagangan maritim, namun beberapa diantaranya muncul menjadi pelabuhan regional penting yang menjadi pusat pengumpul dan distribusi barang yang disebut dengan entrepôt.

Kota-kota pelabuhan yang memiliki lokasi strategis dan memiliki kekuatan politik untuk mengendalikan kegiatan perdagangan di wilayah sekitarnya tumbuh menjadi pusat-pusat perdagangan maritim regional dan internasional. Kota-kota tersebut juga menjadi motor penggerak kegiatan ekonomi untuk wilayah-wilayah yang berada di bawah pengaruh mereka.

Kota-kota tersebut muncul pertama kali sebagai pelabuhan-pelabuhan lokal yang kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan perdagangan maritim regional dan internasional. Kebanyakan dari kota-kota pelabuhan tersebut terletak di jalur perdagangan maritim yang telah berkembang sebelum kedatangan bangsa barat. Mereka menjadi kekuatan politik yang mengatur dan menentukan perkembangan jaringan perdagangan di wilayah laut di sekitarnya maupun di pedalaman.

Perubahan mendasar terhadap jalur perdagangan rempah di Kepulaun Nusantara terjadi pada tahun 1511, yaitu ketika Portugis berhasil merebut Malaka dan menjadikan kota pelabuhan ini sebagai koloninya. Dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis maka berakhir pulalah jalur perdagangan rempah-rempah yang berpusat di Malaka.

Jatuhnya emporium Malaka ke tangan kekuatan non muslim yang bersikap bermusuhan dengan para pedagang Islam menyebabkan pihak yang terakhir mencari kota-kota dagang lain yang bisa dijadikan tempat kegiatan perdagangan. Faktor tersebut yang menjelaskan mengapa sejak awal abad ke-16 muncul pusat-pusat perdagangan baru di Kepulauan Indonesia untuk menggantikan Malaka.

sebagai emporium di Asia Tenggara yang dulu hanya dijalankan oleh Malaka kemudian dijalankan paling tidak oleh tiga kota pelabuhan utama yang dalam berkembangannya juga menjadi emporium-emporium, yaitu Aceh di ujung utara Pulau Sumatera, Banten di ujung barat Pulau Jawa, dan Makassar di ujung selatan Pulau Sulawesi.

Sepanjang periode abad ke-16 dan 17 Banten mampu mempertahankan kekuasaan mereka di wilayah Selat Sunda yang secara agraris paling produktif dimana penduduk lokal dengan aktif terus memproduksi lada untuk memenuhi permintaan pasar dunia.

Pembelian lada di Banten dari para petani dilakukan melalui para pedagang perantara. Peran sebagai pedagang perantara dijalankan oleh orang-orang Cina. Mereka melakukan pembelian lada di daerah pedalaman Banten dan Lampung dan membawanya melalui sungai-sungai yang ada ke palabuhan-pelabuhan terdekat di daerah pesisir sebelum dibawa ke pelabuhan Banten.

Sesampainya di kota pelabuhan Banten para pedagang perantara Cina menjual lada ke para pedagang Eropa dan pedagang dari berbagai penjuru Asia dengan keuntungan yang cukup besar. Para pedagang Belanda dan Inggris mencoba beberapa kali tanpa hasil untuk melakukan pembelian langsung ke daerah pedalaman. Hal ini karena para petani lada lebih mempercayai orang Cina daripada orang Belanda dan Inggris. Hal ini karena para pedagang Cina melakukan pembelian lada secara terus menerus dalam jangka waktu yang telah lama jika dibandingkan dengan orang-orang Eropa.

Lebih jauh lagi uang picis yang digunakan para pedagang Cina adalah uang yang telah digunakan secara meluas di pedalaman Banten.

Teluk Lada atau lebih dikenal dengan sebutan peper baay (teluk lada) di banten, yang terletak di sebuah tanjung antara tanjung lesung dan tanjung liwungan (sebelum krakatu meleteus 1883). diperkirakan posisi kegiatan transaksi dan gudang-gudang lada juga dimana perkebunan lada dan dermaga pelabuhan muat kongsi dagang kesultanan banten di wilayah itu sangat ramai saat itu, bahkan perkebunan lada/merica sepanjang garis pantai memenuhi wilyah teluk liwungan, dan menjadi sebutan pedagang lokal dan pendatang sebagai teluk lada.

Pada waktu itu awal tahun 1800 Pada masa deandales berkuasa, bahkan di tanjunglayar ujungkulon selat sunda, didirikan mercusuar guna memberikan akses tol laut bagi para perahu dagang yang melintas disana , startegis dan ramai demikian suasana selat sunda saat intu, dengan kapal-kapal besar yang berlabuh di bandar teluk lada.