ARSIP AUTENTIK MENJAGA KEKAYAAN BANGSA


ARSIP AUTENTIK MENJAGA KEKAYAAN BANGSA

Dalam kehidupan ini kita tidak terlepas dari arsip. Sejak kita lahir, tumbuh sampai dewasa bahkan sampai meninggal pasti berhubungan dengan arsip. Ketika kita terlahir ke dunia sudah ada arsip yang menyertai kita yaitu Akte Kelahiran, yang menjadi bukti autentik kelahiran seorang bayi dari sebuah pasangan. Lalu ketika bertumbuh usia sekolah arsip Ijazah, Raport dan berbagai piagam penghargaan yang mungkin diraih oleh kita ataupun putra putri kita. Pada saat seseorang meninggal pun ada arsip yang menyertainya, yaitu Akte Kematian. Arsip-arsip ini berperan sangat penting pada masanya, bahkan selama orang itu masih hidup.

Tidak bisa kita bayangkan seandainya arsip yang kita miliki hilang, terbakar atau rusak , padahal segala sesuatu keperluan hajat hidup orang berkaitan dengan arsip tersebut. Seseorang akan hancur masa depannya karena kehilangan sebuah ijazah yang diperoleh dengan kuliah selama bertahun-tahun. Karena ijazah itulah yang menjadi bukti autentik jati dirinya sebagai seorang yang mempunyai keahlian sesuai dengan kompetensinya. Tidak hanya itu kehilangan suatu arsip bukan hanya kehilangan bukti autentik, bisa dikatakan kehilangan memori kolektif dan kehilangan asset atau harta kekayaan. Sebagai contoh Indonesia kalah dari malaysia dalam kepemilikian pulau Sipadan dan Ligitan karena Malaysia yang secara efektif menempati dan melakukan pembangunan di kedua pulau sehingga Mahkamah Internasional berdasarkan prinsip "pendudukan atau penguasaan efektif" (effective occupation).

Saat itu Indonesia berargumentasi bahwa ketentuan dalam Konvensi 1891 yang menyatakan garis 4˚10’ LU yang membagi Pulau Sebatik tidak berhenti di ujung Pulau Sebatik, melainkan harus diteruskan ke arah Timur sebagai suatu allocation line yang membuat pulau-pulau di sisi utara garis menjadi milik Inggris dan pulau-pulau di sisi selatan garis menjadi milik Belanda. Dengan demikian, Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan yang berada di sisi selatan garis menjadi milik Belanda. Sekiranya mahkamah menolak klaim pertama Indonesia, maka Indonesia berhak atas kedua pulau tersebut atas dasar Indonesia sebagai pewaris dari Sultan Bulungan yang memiliki kekuasaan atas Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan. Akan tetapi klaim yang diajukan Malaysia lebih kuat. Malaysia mengajukan klaim atas dasar effective occupation. Bukti-bukti yang diajukan Malaysia berupa penguasaan dan pengelolaan penyu dan pengambilan telur penyu oleh Inggris, pembentukan wilayah suaka burung di Sipadan pada 1933, dan pembangunan mercusuar di kedua pulau oleh otoritas kolonial British North Borneo pada tahun 1960-an yang kemudian dirawat secara berkala oleh Pemerintah Malaysia. Semua bukti disajikan dalam hasanah arsip yang sangat lengkap, runut dan detail. Inilah yang menjadi kekalahan penguasaan Indonesia atas kedua pulau itu dari Malaysia. Maka bisa dikatakan kehilangan arsip atau arsip tidak lengkap asetpun melayang. Dengan arsip kita bisa melindungi kedaulatan bangsa, dan dengan arsip memori kolektif bangsa akan tetap terjaga. 

Belum lagi kasus klaim warisan budaya bangsa kita yang diklaim sebagai warisan budaya nenek moyang bangsa Malaysia, seperti batik, reog ponorogo, lagu rasa sayange, wayang kulit, rendang padang, kuda lumping dan masih banyak lagi yang lain. Namun dengan tekad yang kuat Indonesia dapat menunjukkan bahwa kebudayaan itu adalah warisan nenek moyang kita dengan dibuktikan adanya arsip pada zaman dahulu. Semua yang dimiliki Indonesia tentu menjadi kebanggaan rakyatnya yang jumlahnya ratusan juta berjajar di pulau - pulau yang jumlahnya juga ribuan. Mari kita jaga warisan budaya bangsa dari sisi arsip sebagai bukti autentik kepemilikan sah dari kebudayaan itu. Ternyata dengan menjaga arsip sebagai memori kolektif bangsa, Indonesia mampu menjaga keutuhan kedaulatan bangsa dan kebudayaan asli tetap lestari.

 

Penulis : Sri Wahyuning Widowati, A.Md.

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan