PROFESI ARSIPARIS MENGHADAPI TANTANGAN ZAMAN


 

PROFESI ARSIPARIS MENGHADAPI TANTANGAN ZAMAN

Ada begitu banyak profesi di dunia ini, masing-masing profesi mempunyai kebanggaan tersendiri bagi orang yang mendalaminya. Tak terkecuali profesi di bidang Kearsipan, yang disebut dengan Arsiparis. Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 Pasal 1 Arsiparis adalah seseorang yang mempunyai kompetensi di bidang kearsipan yang diperoleh melalui pendidikan formal dan / atau pendidikan dan pelatihan kearsipan serta mempunyai fungsi, tugas dan tanggung jawab melaksanakan kegiatan kearsipan.

Profesi arsiparis dapat diperoleh melalui jalur pendidikan formal D3 Kearsipan/D4 Kearsipan. Beberapa perguruan tinggi telah banyak meluluskan calon-calon arsiparis yang siap bersaing dengan kompetensi yang dimilikinya. Seperti contohnya UGM, UI, UNDIP, UNPAD, dan UT. Akan tetapi angka kelulusan sarjana keahlian/ahli muda bidang kearsipan belum berbanding lulus dengan angka kebutuhan arsiparis di Indonesia. Kutipan dari Sambutan Mustari Irawan, Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) tanggal 16 Mei 2017 memaparkan jumlah ketersediaan tenaga arsiparis saat ini hanya sekitar 2,5% dari total kebutuhan. Saat ini tercatat jumlah arsiparis yang ada sebanyak 3.525 orang, sedangkan kebutuhan arsiparis untuk pusat dan daerah diperkirakan sebanyak 142.760 orang. Itu artinya masih banyak peluang pekerjaan yang bisa diciptakan dari bidang kearsipan. 

Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap profesi arsiparis, menjadikan arsiparis sebagai profesi yang kurang populer. Ketika seseorang ditanya tentang arsiparis, kemungkinan besar orang akan mengasumsikan dengan sebuah arsip. Dalam bayangannya arsip adalah dokumen yang lusuh, berdebu, bahkan mungkin sudah dimakan rayap, bertumpuk di pojok ruangan dengan kondisi yang terabaikan. Paradigma lama pun tidak jauh berbeda, bahwa petugas arsip adalah seorang bapak yang sudah tua, berpakaian lusuh, bekerja mengumpulkan dokumen dengan sarana terbatas dalam ruangan sempit, pengap, kecil, kotor dan seadanya di paling ujung gedung. Disini terlihat sekali bahwa peran arsip sangat kecil, dan hanya sebagai akhir dari rutinitas kegiatan organisasi. Endingnya arsip bisa dionggok begitu saja, atau ITB (ikat timbang bayar). Ditambah pula dengan permasalahan klasik tentang pengelolaan arsip dari masa ke masa semakin memperburuk citra kearsipan. Kurangnya SDM, kurangnya sarana dan prasarana serta anggaran yang minim.

Akan tetapi zaman telah berubah, paradigma lama pun bisa terganti dengan yang baru. Arsiparis dituntut untuk mencari jalan keluar supaya terbebas dari permasalahan klasik diatas. Ini adalah tantangan bagi arsiparis untuk bisa mengubah permasalahan menjadi peluang, jangan pernah berharap orang lain akan mengubahnya. Arsiparis harus bisa menunjukkan bahwa arsip itu sangat penting, pengelolaan arsip adalah hal yang wajib , dan profesi arsiparis adalah mulia. Bagaimana caranya? Jawabannya adalah arsiparis harus bisa menghargai keberadaan arsip, menghargai pengelolaan arsip dan menghargai insitusi kearsipan itu sendiri. Jangan berharap orang lain akan menghargai arsip, kalau orang yang berkecimpung dengan arsip saja tidak mampu menghargainya. Sekarang jujur saja siapa arsiparis yang bangga dengan profesinya? Kebanggaan atas profesi yang digelutinya adalah modal yang kuat untuk maju dan dihargai orang lain. Kalau sudah bangga pasti akan percaya diri untuk mampu mengubah kearah yang lebih baik. 

Sekarang profesi arsiparis telah memiliki organisasi keprofesian, yaitu Asosiasi Arsiparis Indonesia (AAI), yang mana telah diakui di tingkat nasional dan internasional sebagai organisasi profesi arsiparis yang kapabel. Pengakuan pemerintah terhadap organisasi AAI tertuang dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis (Pasal 1 Nomor 45) dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis (Pasal 1 Nomor 1 Pasal 1 Nomor 45). Sedangkan di tingkat internasional AAI telah terbukti telah menjadi anggota Associate Institutional Southeast Asia-Pacific Audiovisual Archive Assosiation (SEAPAVAA), Tanggal 7 April 2017 (Pk.09.55) pada 21 st SEAPAVAA Conference in Manila, Philippines. 

 

Trauma masa lalu bahwa petugas arsip adalah momok dalam kehidupan berorganisasi telah sirna, seiring dengan kebutuhan dunia akan data dan informasi yang notabene ada di dalam arsip. Bahkan arsip yang ketika diciptakan merupakan dokumen yang biasa saja, akan tetapi ketika sudah bertahun-tahun bisa jadi menjadi pengungkapan sejarah bangsa. Maka dari itu kita harus bijak dan cerdas dalam menyikapi arsip sebagai sumber ilmu pengetahuan dan sumber penelitian. Arsip dapat direkonstruksi dan diekplorasi dengan kreatif, sehingga yang semula menjadi entitas yang bisu, using dan kadang-kadang tidak teratur menjadi sebuah informasi yang segar, dan menjadi suatu pemahaman yang baru yang semula belum terungkap dengan jelas. 

Bagi anda yang berkecimpung dalam pengelolaan arsip, yakinlah dan percaya diri karena tidak semua orang bisa melaksanakan pengelolaan arsip dengan baik dan benar Untuk dapat mengelola arsip secara baik dan benar dibutuhkan SDM yang memiliki kecerdasan, keterampilan, ketelitian dan keahlian yang tinggi. Oleh karena itu anda harus merasa terpilih bukan tersisih, merasa diberi peluang bukan yang terbuang. Sedangkan realita-realita keterbatasan itu adalah tantangan, dan yang sanggup menghadapi tantangan dialah sang pemenang. 

 

Penulis : Sri Wahyuning Widowati, A.Md.

 

Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan