“MENGENANG SEJARAH BANTEN LAMA”


“MENGENANG SEJARAH BANTEN LAMA”

Oleh : Ardiyus, S.Sos

 

Pada masa lalu Banten merupakan daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai. Sebagai kota pelabuhan, masyarakat Banten terbuka terhadap perkembangan dari luar.

Banten bagian dari Kerajaan Tarumanagara. Salah satu buktinya adalah Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Lebak, yang ditemukan di Kampung Lebak.

Wisata Banten Lama seakan melempar wisatawan ke masa Kerajaan Banten pada abad ke-16.  Di lokasi bisa melihat peninggalan sejarah, mulai dari reruntuhan bangunan, benteng, sampai Keraton Surosowan.

Panas terik matahari di Banten sama sekali tidak mengurangi daya tarik lokasi wisata yang satu ini. Objek wisata Banten Lama! Ya, tempat ini merupakan salah satu destinasi yang menyuguhkan gambaran masa lalu tentang era penyebaran Islam di Indonesia.

Objek wisata Banten Lama terletak di Kecamatan Kasemen, Serang, Banten. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Kota Cilegon, jaraknya sekitar 10 km dari pusat kota sebelum masuk Kota Serang.

Memasuki gerbang selamat datang, hamparan sawah yang hijau menyambut kedatangan kita di sepanjang jalan. Meskipun jalan menuju lokasinya agak berliku-liku dan hanya bisa dilewati dua mobil saja tapi masih bisa dikatakan jalanan ini terawat.

Jadi, Banten Lama merupakan salah satu objek wisata Kerajaan Banten tempo dulu yang bernuansa Islami. Dimana selain berwisata, kita juga bisa berziarah ke makam-makam para Sultan Banten beserta keluarganya.

Begitu sampai di lokasi, kita akan melihat tembok-tembok yang terbuat dari tumpukan bata merah. Katanya tempat itu bekas kediaman para Sultan Banten dan dikenal dengan nama Keraton Surosowan.

Namun sayangnya, sampai saat ini yang bisa kita nikmati hanyalah sisa-sisa bangunan dengan benteng-benteng kokoh di sekitarnya. Perlu traveler ketahui, kita tidak bisa sembarangan memasuki tempat itu. Kita harus mengurusi perizinan terlebih dahulu untuk masuk. Konon, hal ini harus dilakukan karena di lokasi ini sering terjadi pencurian benda-benda peninggalan sejarahnya.

Lokasi pertama yang bisa kita datangi adalah Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Di dalam museum kita bisa melihat berbagai macam peninggalan sejarah, mulai dari gambar-gambar pahlawan sampai para Sultan Banten. Selain itu, juga ada peninggalan-peninggalan berupa mata uang kuno, guci-guci, pedang, lukisan, baju adat, dan banyak peninggalan lainnya yang membuktikan kalau peradaban kesultanan itu pernah ada.

Salah satu bangunan lain yang masih berdiri kokoh di sini adalah Masjid Agung Banten Lama, berikut menara setinggi 23 meter. Masjid inilah yang paling terkenal di situs Banten Lama dan selalu penuh sesak oleh para peziarah, terutama saat peringatan hari besar Islam.

Masjid ini berlokasi di Desa Banten Lama yang berjarak 10 kilometer sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Hasanuddin, putra pertama Sunan Gunung Jati.

Atap bangunan utamanya bertumpuk lima dan memiliki dua serambi, di sisi utara dan selatan.  Di sebelah timur terdapat menara yang memiliki ketinggian lebih dari 24 meter yang terbuat dari bata.

Tidak selesai di situ, bangunan bersejarah lain yang bisa wisatawan nikmati adalah Jembatan Rante. Jembatan ini terletak di depan Keraton Surosowan, tepatnya di sebelah utara Masjid Agung Banten Lama.

Tidak jauh dari lokasi pertama, reruntuhan bangunan keraton juga terlihat di sebelah selatan Keraton Surosowan. Pada bagian depannya terpancang papan bertuliskan "Situs Keraton Kaibon".  Keraton Surosowan juga jadi saksi jayanya kerajaan Banten tempo dulu. Bangunan ini dibangun saat pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Pada masanya, keraton ini menjadi pusat kerajaan dalam menjalankan pemerintahan Kerajaan Banten. Hal tersebut terlihat dalam tata pola yang mengikuti kerajaan Islam lainnya. Misalnya, alun-alun di sebelah utara, masjid agung di bagian barat dan pasar, serta pelabuhan di sisi timur, dan keraton di utara. Di tempat ini pula terdapat benteng-benteng peninggalan sejarah.

Lokasi Benteng Speellwijk tak jauh dari Masjid Agung Banten. Bangunan ini memiliki ketinggi dinding 5 meter. Nama Spellwijk digunakan sebagai penghormatan terhadap Gubernur Jenderal VOC Cornelis Janzoon Speellwijk. Bentuk bangunan ini menyerupai segi empat dan tiap sisinya dibangun ruang inti atau menara pengintai. Sementara itu, benteng ini dikelilingi parit dengan luas mencapai 10 meter.

Dari Keraton Kaibon ada satu tempat lagi yang bisa kita datangi, yaitu Pelabuhan Karangantu. Di pelabuhan ini kita bisa melihat para nelayan yang melaut. Uniknya, nelayan di daerah ini masih menggunakan peralatan tradisional untuk mencari ikan.

Oh ya, sebelum sampai ke Pelabuhan Karangantu, kita bisa berkunjung ke sebuah vihara. Tempat ibadah umat Buddha ini bernama Vihara Avalokitesvara. Jadi bukan hanya bangunan masjid, Kesultanan Islam Banten juga menyisakan bangunan Buddha. Bangunan ini terletak 15 kilometer arah utara dari Kota Serang, Banten. Letaknya di Kecamatan Kasemen, kawasan Banten Lama. Vihara ini dibangun sejak abad ke-16 dan memiliki luas mencapai 10 hektare dengan altar Dewi Kwan Im. Versi lain menyebutkan jika vihara ini dibangun pada 1652, yaitu saat masa keemasan kerajaan Banten saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Konon, vihara ini merupakan salah satu yang tertua di Indonesia.

Tidak hanya liburan, kita bisa mendapatkan ilmu. Dengan mengunjungi tempat ini kita bisa mengenal sejarah dan peradaban suatu bangsa.


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan