ARSIP DAN EKSISTENSI BANGSA


 

SEJARAWAN DAN ARSIP 

Oleh: Encep Supriatna

  1. ‚Äč  Pendahuluan

Orang yang pernah belajar sejarah pasti mengenal yang namanya Arsip, baik itu arsip yang statis maupun yang dinamis, terutama karena sejarah itu terkait dengan peristiwa di masa lampau maka para sejarawan akan banyak bergelut dengan sumber-sumber primer yang berupa arsip statis. Arsip di Indonesia disimpan di Lembaga khusus yang bernama Arsip Nasional republik Indonesia (ANRI),  di lembaga inilah dokumen-dokumen penting negara disimpan dari waktu ke waktu berdasarkan klasifikasinya. Seorang sejarawan yang telah mendapatkan arsip maka ia akan melakukan proses tahapan kritik intern dan ekstern dari sumber primer tersebut. Kritik Intern terkait dengan keaslian dan kebenaran isi sebuah arsip, kritik esktern terkait dengan kebenaran atau keaslian dari misalnya kertas yang digunakan dalam arsip tersebut apakah alsi atau palsu. Langkah selanjutnya adalah interpretasi atau penafsiran terhadap isi naskah tersebut, untuk menfasirkan sebuah naskah yang ada di arsip misalnya naskah-naskah kuno diperlukan ilmu bantu untuk membacanya termasuk terhadap dokumen atau arsip peninggalan masa kolonial, persyaratan penguasaan bahasa Belanda dan Inggris, bahasa Jepang mutlak diperlukan. Tanpa penguasan bahasa seorang sejarawan dan arsiparis akan kesulitan untuk  mengetahui maksud dari anskah tersebut, bisa-bisa salah menafsirkan atau membaca dan akan fatal akibatnya.

  1.  Metodologi Sejarah dan Sumber Primer

Selanjutnya setelah menafsirkan sebuah arsip dalam bentuk naskah tugas sejarwan adalah eksplanasi atau penjelasan bahasa ilmiahnya adalah Historiografi, pada fase ini seorang sejarawan dituntut untuk mempu menyajikan sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca dan mudah dipahami. Pada fase ini ilmu kesusastraan dan linguistik diperlukan, dan pada fase ini pula subyektifitas seorang sejarawan akan masuk termasuk opini, pemikiran, ideologi, keyakinan akan membuat peristiwa sejarah manjadi multitafsir walapun sumbernya sama. Sudah  menjadi suatu kewajaran dan lumrah apabila subyektifitas ini muncul dalam sebuah hasil tulisan sejarah (historiografi), bahkan dalam metode penulisan sejarah deskriptif naratif beberapa sejarawan memberikan “bumbu-bumbu” narasi yang hiperbola, sarkasme untuk menggambarkan suatu peristiwa, terkadang mereka menggunakan ilmu sastra dengan menambahkan majas-majas yang sulit dipahami oleh orang yang awam sastra, tapi bagi mereka yang menyukai sastra akan sangat senang membaca hasil riset sejarah ini, sebagai contoh dari tulisan model deskriptif naratif ini dalam bentuk novel-novel sejarah yang ditulis bukan oleh sejarawan tapi oleh sastrawan, antara lain Novel tentang kerajaan Majapahit, Prabu Siliwangi, Kerajaan Sunda Padjadjaran, Patih Gajah Mada, Novel Perang Bubat, Novel Sejarah Ken Arok dan Ken Dedes.

Pertanyaannya kemudian pada fase mana Arsip digunakan untuk menulis Novel-Novel sejarah ini, hemat penulis arsip digunakan pada saat mencari ide dan garis besar cerita sejarah secara kronoligis, sebagai jalannya peristiwa sejarah arsip digunakan pula untuk mendukung fakta-fakta sejarah yang ada dalam cerita sejarah, selanjutnya tugas sejarawan menafsirkan, memahami dan menjelaskan peristiwa sejarah tersebut menjadi tersambung satu sama lain, sehingga menjadi suatu jalan cerita yang utuh dan  menarik. Dalam menysusun cerita sejarah hukum sebab-akibat (kausalitas) biasanya digunakan karena sejarah memiliki sifat kontinuitas antara satu peristiwa dan peristiwa yang lain. Kalaupun ia dipenggal-penggal dalam bentuk episode sejarah, itu hanya untuk memudahkan para peminat dan pembaca sejarah untuk memahami jalannya suatu peritiwa sejarah, contoh kongkret tentang episode sejarah ini adalah: Penyusunan Sejarah Nasional Indonesia yang terdiri atas 7 Jilid yang di tulis oleh Prof. Nugroho Notosusanto dan Marwati Djoened Pusponegoro, Terbitan Balai Pustaka Penerbit milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam buku ini di susun dalam Jilid satu menjelaskan tentang kehidupan Pra sejarah di Indonesia dengan manusia pendukungnya dan peralatan hidupnya, Jilid dua menjelaskan tentang Masa kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara, Jilid III menjelaskan tentang Masa kerajaan-Kesultanan Islam di Nusantara, Jilid IV berisi tentang penetrasi bangsa Barat ke Indonesia, Jilid V berisi tentang Masa Pergerakan nasional, Jilid VI berisi tentang Orde lama, (demokrasi Liberal dan terpimpin, Jilid VII berisi tentang Orde Baru dan Reformasi sampai di sini seolah sejarah Indonesia terhenti, mungkin ke depan tidak menutup kemungkinan ada jilid VII yang berisi tentang masa pasca Reformasi di Indonesia.

 

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan