Akademisi dan Ulama Perempuan Banten


Dra. Hj. Hayati Nufus : Akademisi dan Ulama Perempuan Banten

Oleh : Nurazizah

(Pemandu Museum Negeri Banten)

Ungkapan “perempuan adalah tiang negara” menunjukkan bahwa kedudukan perempuan sangat strategis di dalam kehidupan bermasyarakat. Walaupun tak sedikit yang beranggapan bahwa perempuan masih berada pada posisi yang marginal, terkucil, dan dibatasi. Faktanya di era sekarang tidak sedikit perempuan yang mulai menunjukan perannya sebagai anggota masyarakat.

Berbicara tentang kaum perempuan di Banten, sejarah mencatat bahwa ada banyak perempuan yang memiliki segudang peran dalam masyarakat. Beberapa perempuan Banten yang banyak berkiprah di masyarakat sebagian besar adalah tumbuh di lingkungan pesantren dan mendapatkan pendidikan agama dari pesantren. Di era serba kompetitif sekarang ini, para perempuan pesantren punya peluang lebih besar untuk berkiprah di banyak bidang. Tak hanya di ranah agama, tapi juga bisa mengisi ranah pendidikan, ekonomi, politik,  birokrasi, dan ranah profesional lainnya.

Beberapa perempuan Banten yang masyhur di masyarakat di antaranya adalah Nyai Arnah dari Cimanuk, Pandeglang yang pernah menjadi murid Syech Nawawi Tanara di Mekah. Ia juga dikenal sebagai ulama di Mekah dan di Pandeglang. Dalam ranah politik dikenal Maria Ulfah Santoso, perempuan asal Banten yang merupakan perempuan Indonesia pertama yang mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Leiden, Belanda dan juga pernah menjabat sebagai menteri sosial pada Kabinet Sjahrir II. Walaupun bukan berasal dari lingkungan pesantren, namun sosok Maria Ulfah Santoso adalah perempuan Banten yang memiliki peran signifikan dalam kemajuan Bangsa.  Dalam ranah pendidikan dikenal Dra. Hj. Hayati Nufus, ia dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri institusi pendidikan tinggi Aisyiyah di Banten dan  juga dikenal sebagai ulama perempuan yang aktif dalam dakwah agama.

Keberadaan ulama perempuan di Banten yang bersumber dari masyarakat cukup banyak dikarenakan masyarakat  awam menerjemahkan ulama sebagai orang yang pintar dalam ilmu agama yang bisa mentransmisikan keilmuan melalui dakwah atau ceramah agama. Tokoh perempuan yang disebutkan terakhir adalah perempuan Banten yang banyak berkiprah di masyarakat. Ketokohan Dra. Hj. Hayati Nufus dengan kiprahnya pada beberapa aspek didukung oleh pengakuan masyarakat sebagai pusat legitimasi keulamaan secara tradisional.

Dra. Hj. Hayati Nufus atau Hayati Nufus lahir pada tanggal 25 November 1936 di Petir, Kabupaten Serang. Ia lahir dari keluarga yang taat beragama dan tumbuh di lingkungan tradisi pesantren dengan keagamaan yang kuat. Ayahnya bernama KH. Muhammad Juhri dan ibunya bernama Nyi Hj. Mahdiah. Ayahnya memiliki pesantren dengan jumlah santri yang cukup banyak dan merupakan pejuang pada masa penjajahan Belanda. Karena memiliki jumlah santri yang banyak, oleh karenanya KH. Muhammad Juhri menjadi perhatian khusus para penjajah, karena dianggap mengancam kekuatan Belanda.

Ketika berusia tiga tahun Hayati Nufus sudah menjadi yatim piatu. Ayahnya wafat karena sakit akibat dibuang ke Digul oleh penjajah Belanda. Tidak lama berselang ibunya pun wafat. Hayati Nufus adalah anak keempat dari lima bersaudara. Di antara saudara-saudaranya adalah : Pertama, KH. Ajurum, pernah menjadi wedana yang meliputi Kecamatan Ciruas, Petir, dan Walantaka. Kedua KH. Muhammad Haedar, pimpinan Pondok Pesantren Nurul Falah di Cadasari, Pandeglang. Ketiga, Hj. Humairoh, sebagai Kepala ‘Aisiyah Petir, Serang pada saat ini. Keempat, Hayati Nufus, dan terakhir Suhaemah. Dari empat saudara tersebut, hanya Hj. Humairoh satu-satunya saudara yang sampai saat ini masih hidup, bahkan ia  banyak mengasuh Hayati Nufus ketika masih kecil. Kematangan Hayati Nufus tak terlepas dengan peranan keluarganya. Lingkungan keluarga agamis telah menumbuhkan kepribadiannya. Sehingga ia dikenal tak hanya pandai dalam ilmu agama, tapi juga berakhlak baik pada sesama.

Hayati Nufus menempuh pendidikan dasar di tempat kelahirannya di Petir, Serang. Selama duduk di bangku sekolah dasar, kecerdasan Hayati Nufus sudah mulai terlihat. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di SMPN 1 Serang. Pada saat itu sekolah lanjutan belum ada di tempat kelahirannya, sehingga ia harus menempuh jarak yang cukup jauh. Setelah tamat dari SMPN 1 Serang, Hayati Nufus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu SLTA. Ia bersekolah di salah satu SLTA di Bandung, dan selama menempuh pendidikan di sana ia tinggal di rumah kerabat ayahnya, yaitu Ayip Samin. Setelah menamatkan pendidikan SLTA Hayati Nufus terus memacu semangatnya dalam menuntut ilmu dengan berkuliah di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta. Selama menjadi mahasiswi, Hayati Nufus aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra kampus. Salah satu organisasi yang digelutinya adalah organisasi kedaerahan, yaitu organisasi Keluarga Banten. Dalam organisasi ini ia aktif melakukan kerja-kerja sosial dan keagamaan. Selama aktif berorganisasi aktivitas perkuliahannya tidak pernah terganggu. Sehingga ia dapat menyelesaikan studinya dalam waktu yang relatif singkat.

Melalui organisasi Keluarga Banten ia bertemu dengan seseorang yang bernama Rafiudin Akhyar. Rafiudin Akhyar adalah mahasiswa senior pada Akademi Tabligh di Yogyakarta dan kadernya Kahar Mudzakkir. Rafiudin Akhyar juga merupakan aktivis Muhammadiyah yang membimbing Hayati Nufus aktif di Keputrian Muhammadiyah, yaitu Aisyiyah. Melalui organisasi ini jiwa sosial dan kepeduliannya terhadap masyarakat sekitar semakin besar. Aktif di organisasi Keputrian Muhammadiyah menjadi gerbang bagi Hayati Nufus untuk melebarkan sayapnya berkiprah dalam masyarakat luas terutama dalam bidang pendidikan.

            Pada tanggal 29 Mmaret 1981 Hayati Nufus menikah dengan seorang lelaki yang bernama Sukarni Abdul Rauf yang lahir di Riau pada tanggal 11 Maret 1955. Satu tahun setelah menikah, keduanya mengangkat anak pada tahun 1982, yaitu anak dari keponakannya, Bahiroh. Bahiroh memiliki anak kembar yaitu Maman dan Makmun.  Hayati Nufus mengangkat Maman sebagai anak angkatnya. Saat ini Maman berkiprah di AKBID ‘Aisyiyah Banten untuk melanjutkan perjuangan Hayati Nufus.

Dakwah Hayati Nufus tak bisa dilepaskan dari ‘Aisyiyah Muhammadiyah di Banten. ‘Aisyiyah adalah salah satu organisasi otonom bagi perempuan Muhammadiyah yang didirikan di Yogyakarta pada 27 Rajab 1335 H atau 19 Mei 1917 oleh Nyi Hj. Ahmad Dahlan. Menjelang usia seabad ‘Aisyiyah telah memberikan corak tersendiri dalam ranah sosial, pendidikan, kesehatan, dan keagamaan, yang selama ini menjadi titik tolak gerakannya. Saat ini ‘Aisyiyah telah memiliki 33 pimpinan wilayah (setingkat provinsi). 370 pimpinan daerah (setingkat kabupaten). 2332 pimpinan cabang (setingkat kecamatan), dan 6924 pimpinan ranting (setingkat kelurahan).

Pada tahun 1965, berdiri Pimpinan Muhammadiyah atau ‘Aisyiyah PCA Tirtayasa Pimpinan Daerah Kabupaten Serang. Dra. Hj. Hayati Nufus ditunjuk sebagai pimpinan pertama di organisasi ini. Kiprahnya di ‘Aisyiyah terbilang cukup besar, sehingga ia  sangat mudah diterima oleh semua kalangan. Baginya organisasi ‘Aisyiyah mempunyai peran yang sangat penting, sebab ia melihat kenyataan hidup kalangan perempuan pada zamannya.

Hayati Nufus sangat menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi kaum  perempuan. Dengan pendidikan perempuan di Banten akan lebih maju dan berpengetahuan tinggi, sehingga tidak didiskriminasi dan tidak menjadi terbelakang. Bukti nyata kepeduliannya terhadap perempuan Banten adalah ia berperan dalam pendirian AKBID ‘Aisyiyah Banten. Awal penggagasan berdirinya AKBID adalah pada tahun 2000, bertepatan dengan lahirnya Provinsi Banten. saat itu ia menjabat sebagai PWA Banten selama dua periode. Periode berikutnya ia diangkat sebagai penasehat PWA Banten sampai akhir hayatnya.

Peran lain Hayati Nufus adalah mengabdikan diri sebagai dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan di Institut Agama Islam Banten (IAIB). Aktivitas sebagai dosen ini dimulai setelah ia menamatkan pendidikannya di Yogyakarta. Di IAIB ia pernah menjabat sebagai dekan Fakultas Adab sampai akhir hayatnya. Tak hanya di bidang pendidikan, Hayati Nufus juga berperan dalam bidang sosial keagamaan. Ia mendirikan majelis taklim di beberapa tempat di mana ia berperan langsung sebagai penceramahnya. Hayati Nufus berperan besar dalam pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah pada tahun 1980-an. Kini gedung dakwah tersebut menjadi Pusat Dakwah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Serang.

Hayati Nufus wafat pada bulan Maret 2013 dalam usia 77 tahun. Ia menderita sakit yang cukup parah sehingga harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama. Kepergiannya meninggalkan duka yang dalam bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Kiprah dan jasanya di masyarakat akan selalu terkenang. Salah satu prestasinya yang membanggakan adalah ia tercatat sebagai perempuan Banten pertama yang memperoleh gelar sarjana. Setelah menyandang gelar sarjana yang dikukuhkan oleh Prof. R.H.A. Moh. Adnan dan Mr. Wasil Aziz, ia kembali ke Banten dan mengabdikan diri untuk pendidikan dan masyarakat Banten. Hayatin Nufus meyakini bahwa perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter sebuah bangsa. Perempuan memberikan pengaruh yang besar dalam meningkatkan kadar kesusilaan umat manusia. Dari kaum perempuan, manusia menerima pendidikan pertama. Di tangan perempuan, tercipta generasi-generasi hebat dan tangguh. Singkat kata, perempuan itu memiliki kekuatan besar.

 

 

 

*Sumber : Mufti Ali, dkk, Ulama Perempuan Banten : Dari Mekah, Pesantren,

      dan Majelis Taklim  untuk Islam Nusantara, Banten : Bildung

      Nusantara, 2017. 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan