Maria Ullfah Sebagai Model Perempuan Kebanggaan Banten


Maria Ullfah Sebagai Model Perempuan Kebanggaan Banten

Sejak fajar kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, lalu ketika Banten resmi menjadi provinsi tersendiri yang terpisah dari Jawa Barat, para pemuka masyarakat Banten berusaha mencari tokoh-tokoh perempuan di masa silam maupun di masa sekarang untuk dijadikan model pembaruan dan kemajuan. Ada yang memilih Iti Oktavia Jayabaya sebagai model, ada juga yang menganggap Maria Ullfah.

Di tengah situasi politik terkini, di saat beberapa kepala daerah perempuan dan politisi perempuan terseret kasus beraroma korupsi, upaya mencari Model Perempuan Kebanggaan Banten ini layak menjadi inspirasi untuk kita semua. Pilihan-pilihan model ini terkait erat dengan karakter proyek pembaruan yang diusung para tokoh kemajuan Banten. Mereka yang mengambil Iti Oktavia sebagai model, misalnya, memiliki kelebihan bersikap akomodatif terhadap pembangunan SDM masyarakatnya, melalui pendorongan pemberdirian Museum Multatuli sebagai ikon akar sejarah daerah yang dipimpinnya selaku Bupati Lebak.

Bagi mereka yang menjadikan Maria Ullfah sebagai model, kemajuan berangkat dari keyakinan bahwa tokoh ini merupakan pemikir par excellence dan figur raksasa yang telah memberi kontribusi besar bukan cuma bagi kaum perempuan, tapi juga bagi kemanusiaan secara nasional.

Maria Ullfah lahir di Serang-Banten pada 18 Agustus 1911. ayahnya, RAA Mohammad Achmad bekerja sebagai Bupati Kuningan, setelah sebelumnya sempat bertugas sebagai amtenaar di Serang, di Rangkasbitung dan kemudian menjadi Meester di Batavia. Ibu kandung Maria adalah RAA Hadidjah Djajadiningrat. Hadidjah sendiri adalah anak kelima dari sembilan bersaudara pasangan Raden Bagoes Djajawinata dan Ratu Shalehah. Djajawinata pernah menjabat Wedana Kramatwatu dan kemudian jadi Bupati Serang.

Kakak Hadidjah atau paman Maria, Hoesein Djajadiningrat, adalah doktor pertama asal Indonesia lulusan Universiteit Leiden-Belanda. Menulis disertasi Tinjauan Kritis Atas Sejarah Banten di bawah bimbingan ahli Islam terkemuka Snouck Hurgronje. Pamannya yang lain dari trah ibunya adalah Hassan Djajadiningrat, jadi ketua Sarekat Islam. Hassan wafat pada 1921, kedudukannya digantikan KH. Achmad Chatib yang kelak turut memimpin pemberontakan 1926 di Banten.

Di dalam keluarga terdidik itulah Maria Ullfah dilahirkan dan dibesarkan, yang secara turun-temurun mendapat tempat terhormat dalam pemerintahan kolonial. Pada masa kemerdekaan, Maria Ullfah tampil menjadi Menteri Sosial pertama Republik Indonesia. Dia juga sarjana hukum perempuan pertama dari Indonesia yang berhasil menyabet gelar Meester in de Rechten-nya (Mr) dari Universiteit Leiden-Belanda.

Maria Ullfah layak dijadikan model kemajuan peradaban Banten bukan cuma karena posisinya sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia, tapi juga karena ia juga seorang Menteri Sosial di Kabinet Sjahrir II dan III yang tiada pernah berhenti menyuarakan perlindungan perempuan di dalam masyarakat. Maria Ullfah adalah figur lengkap yang tidak dimiliki tokoh-tokoh besar perempuan Banten lainnya. Tak ada nama tokoh perempuan Banten yang begitu berpengaruh pemikiran dan prestasinya bagi, baik itu bagi peradaban Banten maupun secara nasional, seperti Maria Ullfah. 

  Di masa penjajahan Belanda, ketika kedudukan perempuan berada dalam keadaan memprihatinkan,  Maria menjadi salah satu pendiri organisasi Isteri Indonesia. Organisasi itu menerbitkan majalah bulanannya sendiri yang juga bernama sama dengan nama organisasinya. Maria menjadi salah satu kolumnis tetap di majalah tersebut dan kerap mencurahkan pikiran-pikirannya tentang gerakan perempuan di Indonesia. Dari tulisannya, ada berbagai soal yang menjadi pokok, mulai soal keadaan umum perempuan di Indonesia: pernikahan paksa, buruh perempuan dan soal perwakilan perempuan di dalam parlemen di Hindia Belanda.

Pada tahun 1930-an Maria berhasil mempersatukan gerakan perempuan untuk memikirkan formula peraturan dalam melindungi kaum perempuan dari kepentingan sepihak kaum lelaki. Undang-undang itu sendiri baru berhasil disahkan pada 1974, setelah puluhan tahun diperjuangkan sejak zaman kolonial.

 

Warisan pemikiran dan falsafah

Adalah Maria juga yang mengusulkan pencantuman pasal kesetaraan warga negara di hadapan hukum sebagaimana tercantum dalam pasal 27 ayat 1 UUD 1945. Pencantuman pasal itu merupakan kemenangan bagi gerakan perempuan dan kelak berguna bagi mereka yang hidup di alam kemerdekaan. Usulan itu disampaikan kepada Moh Hatta dalam kapasitas Maria sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Bagi Maria, keterlibatannya di dalam upaya Kemerdekaan Indonesia merupakan kewajiban dan perwujudan cita-citanya sejak kuliah di Belanda. Kehadiran Maria dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi rekan-rekannya sesama tokoh perjuangan. Mereka kerap menonjol-nonjolkan Maria sebagai anak Bupati didikan Belanda yang sukarela terjujn ke gelanggang kemerdekaan. Menempatkannya sebagai seorang pengecualian.

Sekonyong, begitu Maria dilantik menjadi Menteri Sosial, dia segera mendapat dukungan dari Badan Kongres Wanita Indonesia yang langsung mengirim kawat ucapan selamat kepada Presiden Soekarno di Yogyakarta. Dalam ucapan itu mereka menyatakan rasa syukurnya bahwa kabinet Sjahrir mengangkat seorang perempuan menjadi menteri.

Sebagai Menteri Sosial, Maria langsung dibebani tugas penting: melaksanakan proyek kemanusiaan pemulangan interniran dari kamp-kamp yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Tugas tersebut didukung oleh Inggris yang menyediakan kapal terbang, obat-obatan, pakaian dan makanan. Seluruh interniran kemudian dikumpulkan di kota-kota besar yang memiliki bandara udara atau dibawa dengan kereta ke wilayah yang dikuasai Belanda. Tak sedikit gangguan terhadap proses pemulangan ini. 

Pemerintah Republik Indonesia bertanggungjawab penuh atas proses pemulangan itu. Pihak sekutu, melalui tentara Inggris, memercayakan sepenuhnya kepada republik untuk mengaturnya. Secara politis, kepercayaan itu menandakan sikap Inggris yang mengakui keberadaan Pemerintah Republik Indonesia. Belanda keberatan dengan sikap Inggris itu. Bahkan Belanda menyurati Perdana Menteri Inggris, protes kenapa Inggris kok bantu Indonesia. Bahkan Inggris memberi bantuan seratus pucuk senapan kepada TRI (Tentara Republik Indonesia).

Dilihat dari perspektif ini, di sini bisa dilihat kalau Maria Ullfah merupakan tokoh perempuan besar asal Banten yang telah memberikan banyak kontribusi bagi negara dan kaumnya. Maria telah berhasil mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirinya, menautkan hatinya dengan hati orang sekalipun itu musuhnya sebagai esensi dari pengelolaan manusia dalam kapasitasnya selaku Menteri Sosial. Tak heran, bila bangsa Belanda dan Inggris pun mengakui kehebatannya.

Maria begitu menghargai kedudukan perempuan, karena tanpa perempuan, takkan ada keseimbangan, baik itu untuk bernegara, bermasyarakat, maupun di tingkat keluarga. Perlindungan kaum perempuan tak bisa dipertentangkan. Dan apabila masih ditemukan adanya praktik yang merendahkan kedudukan perempuan, maka bukannya kita serta merta memojokkan pihak itu karena keawamannya, tapi tugas kita untuk memberi pengertian dan pencerahan agar praktik itu hilang dengan sendirinya, dan akhirnya berjalan sesuai nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Atas dasar sikap itulah, Maria konsisten berjuang dalam menyuarakan perlindungan perempuan hingga akhir hidupnya. Pilihan sikap perjuangan Maria membuatnya dikenang sepanjang masa. Kendati di Banten sendiri dia masih banyak belum dikenal oleh generasi sekarang, di pentas nasional dan internasional warisannya terus dipelihara oleh pengagum-pengagum yang terinspirasi oleh perjalanan hidupnya.

Baginya, itikad membebaskan negerinya dari penjajahan Belanda dan perjuangan perlindungan kaum perempuan tidak boleh setengah-setengah. Kalau sebuah negeri mau maju, mereka haruslah mampu membuka diri dan mengambil kebaikan-kebaikan yang ada di luar sana.

 

 

Rully Ferdiansyah, pengurus ICMI Banten bidang budaya.

Nomor Hp: 082310832314.

 

 

Biodata Penulis

 

  1. Biodata

Nama                                       : Rully Ferdiansyah

Tempat dan Tanggal Lahir      : Serang, 30 Agustus 1985

Alamat                                    : Komp. Pemda Blok A-8, RT01/RW07,

  Cinanggung, Kel. Kaligandu, Serang –

  Banten, 42151

Nomer Telepon                       : (0254) 220668 / 082310832314

 

  1. Pendidikan

1.  SDN Cinanggung, Lulus tahun 1997

2.  SLTPN 01 Cipocok Jaya, Lulus tahun 2000

3.  SMUN 01 Kramatwatu, Lulus tahun 2003

4. Politeknik Piksi Input Serang, Lulus tahun 2007

5. Kelas menulis Rumah Dunia angkatan 17 tahun 2011

 

  1. Pengalaman Kerja

1. Tenaga magang di kampus Politeknik Piksi Input Serang sebagai marketing dan 

    tenaga ahli Komputer selama enam bulan (2006).

2. Sebagai staff  Redaksi dan kartunis di Koran Banten selama satu tahun (2008 -

2009)

3. Sebagai Teknisi Komputer (EDP) bagian Hardware di PT. Nikomas Gemilang -    

                bagian pabrik sepatu Adidas (2009-2012)

  1. Karya tulis yang sudah dipublikasikan.
    1. Tahun-tahun yang hilang di Afrika Selatan: berdiri tegar di bawah bayang-bayang Syaikh Yusuf (Diva Press, Yogya / Mei 2012)
    2. Syam’un; Asal Muasal Lailatul Qadr (Penerbit Republika / Februari 2016)
    3. Identitas Sejati Wong Banten (Artikel Radar Banten)                                                                                                

 

 

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan