Perang Agresi Belanda 1 & II dan Pemerintahan Kaum Ulama 1945-1950. Mengapa di Banten Seakan Terlupakan?


 

                                                                           Perang Agresi Belanda 1 & II dan Pemerintahan Kaum Ulama 1945-1950

Mengapa di Banten Seakan Terlupakan?

Di usia 73 tahun kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sekarang, Banten mengalami perjalanan sejarah yang perih dalam kemerdekaan Indonesia. Perang habis-habisan rakyat Banten melawan serdadu Belanda itu tidak terhindarkan lewat usaha diplomasi karena Residen Banten, K.H. Achmad Chatib, menepis ancaman ultimatum Belanda.

Pada tanggal 23 Desember 1948, Belanda masuk ke Banten. Banyak pusaka dan benda seni milik masyarakat Banten hilang atau dirusak. TNI dan pemerintahan di Banten berusaha mempertahankan diri di hutan. Banten diisolasi Belanda dengan blokade di darat maupun di laut. Hubungan Banten dengan daerah luar, termasuk dengan pemerintahan pusat di Yogyakarta, sangat sulit. Akibatnya, pasokan bahan pangan tidak ada. Pemerintah setempat berusaha mendayagunakan bahan yang ada untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  

Karena tidak mendapat kiriman uang dari pemerintahan pusat di Yogyakarta, K.H. Achmad Chatib sebagai Residen Banten, berinisiatif mengambil kebijakan untuk mencetak uang sendiri yang disebut “Uang Kertas Darurat untuk daerah Banten”, terkenal dengan sebutan “OERIDABS” (Oeang Repoeblik Indonesia daerah Banten Sementara). Uang inilah yang digunakan membayar gaji pegawai. Karena wujud uang tersebut sangat sederhana, banyak timbul uang palsu. Uang asli dicetak terus hingga terjadi inflasi. Pasca Agresi Militer II, OERIDABS dibekukan, untuk keperluan sehari-hari dilakukan barter.

 

Sama di Belanda dan Banten

Di Belanda, peristiwa itu sudah dilupakan karena pertempuran yang berakhir dengan kekalahan secara memalukan di pihak Netherland. Untuk menutup aibnya, Wakil Gubernur Jenderal H.J. Van Mook merealisasikan pembentukan negara federal, Republik Indonesia Serikat dengan Banten yang dimasukkan ke dalam bagian Negara Pasundan.

Politik negara federal tidak saja dimaksudkan untuk mengurangi kerugian dari pihak Belanda, tetapi taktik memecah persatuan yang ada di Banten. Namun Banten sendiri tidak pernah menyetujui berdirinya Negara Pasundan. Dalam situasi setelah Konferensi Meja Bundar (KMB), terbentuk Republik Indonesia Serikat, dengan negara-negara bentukan Van Mook sebagai anggotanya, ternyata keadaan tidak menjadi semakin damai. Di Banten Selatan, terjadi kekacauan yang dilakukan gerombolan Bambu Runcing.

Tidak mengherankan kalau dewasa ini di Belanda pun, peristiwa perang agresi I dan agresi II nyaris dilupakan, tidak dibicarakan, kecuali di kalangan peneliti. Itu pun gemanya sangat terbatas. Seandainya terbetik ada keinginan sejumlah produser radio dan film dokumenter untuk mengangkat peristiwa agresi Belanda di Banten, akan berakhir sia-sia karena tidak mendapat dana dari Pemerintah Belanda.

Sama halnya di Banten, jarang sekali ada peringatan peristiwa bersejarah tersebut yang dirayakan dengan penuh semangat setiap tahunnya. Apalagi peristiwa heroik itu sudah hampir memasuki usia satu abad, seumur dengan kemerdekaan Indonesia. Pertanyaannya, mengapa kejadian Agresi Militer Belanda di Banten tidak diperingati dengan penuh khidmat dan semangat di Banten? Bukankah rakyat Banten dibuat sengsara dalam peperangan? Bukankah perang tersebut menjadi tonggak pahit kekalahan Belanda di seluruh wilayah Banten? Adakah Residen Banten, K.H. Achmad Chatib, hebat sebagai pemimpin pemerintahan dalam situasi krisis peperangan? Bukankah dia juga akhirnya disingkirkan dalan panggung kepemimpinan daerah oleh pemerintahan pusat?

Meskipun masyarakat umum belum banyak tahu tentang kegemparan di masa itu, perang itu seyogianya harus diperingati karena mewariskan “semangat totalitas”, semangat berani mati membela negeri. Lagipula, peristiwa Agresi Militer Belanda di Banten dimaknai sebagai tonggak awal tumbuhnya kesadaran memiliki semangat nasionalisme di Banten. Sejatinya bukan perang itu yang langsung membangkitkan nasionalisme, tetapi lebih dari dampak pendidikan politis yang disediakan pemerintahan Belanda lewat ide Republik Indonesia Serikatnya dengan tujuan memecah belah.

Sampai sekarang, semangat para pejuang Banten masih terasa kurang dipropagandakan. Padahal, semangat itu penting dikobarkan dalam setiap kesempatan untuk tujuan berbeda-beda. Semangat para pejuang Banten bisa dikobarkan untuk membangkitkan perjuangan memberantas kemiskinan, mendorong masyarakat bekerja keras mewujudkan kesejahteraan. Atau, yang lebih politiko-kultural, yaitu memotivasi masyarakat Banten untuk “rela mati menjaga Banten”, seperti pernah terdengar riuh-rendah dalam konteks nasional, yakni demonstrasi menentang wacana pencaplokan Blok Ambalat oleh Malaysia beberapa tahun lalu, atau perbatasan Laut Cina Selatan oleh Negara Cina.

Dalam situasi yang non politis, semangat pejuang Banten bisa dikobarkan dalam dunia olahraga, misalnya untuk mendorong agar pemain bertanding all out alias habis-habisan. Relevansi “semangat pejuang Banten” untuk berbagai konteks modern inilah yang harus dipropagandakan, agar peristiwa pengklaiman Banten oleh Belanda terus bergema di Banten.

Selain Agresi Belanda di Banten, dikenal perang-perang besar lain di Banten. Di antara semua peperangan itu, perang di masa agresi Belanda saja yang paling penting, karena menentukan berakhirnya penjajahan Belanda di bumi Banten.

Oleh karena itu, adalah sangat penting, bagi Banten untuk membangun banyak monumen heroik para pejuang Banten. Tidak seperti di daerah lain, di Banten masih dirasa kurang banyak memiliki monumen peristiwa bersejarah. Bahkan, patung Sultan Ageng Tirtayasa saja hingga sekarang masih terlantar di Kantor Kecamatan Pontang untuk bagian kudanya, sementara tubuh Sultan Tirtayasa yang menunggang kuda berada terpisah di pinggir jalan di Kelurahan Priyayi-Kota Serang

Sebenarnya, lewat monumen itu, memori tentang pedihnya di masa penjajahan semakin tertanam di dalam benak masyarakat, semakin terkenang.

 

Kyai yang ahli administratif

Yang membuat kejadian Agresi Militer Belanda di Banten senantiasa menarik untuk dibicarakan juga karena latar belakang residennya, K.H. Achmad Chatib, yang setelah turun dari kedudukannya sebagai Residen Banten, dia tetap konsisten dalam mengabdikan hidupnya bagi masyarakat Banten.

Jika sejarah pendudukan Belanda di Banten di masa Agresi Militer dibaca, kyai kharismatik ini bukanlah seorang ahli tata negara seperti halnya Bupati Serang P.A.A Djajadiningrat, tetapi kyai yang bijaksana dan pengamat jeli. Sebagai Residen Banten yang dipilih rakyat, K.H. Achmad Chatib mulai menjalankan tugas dengan menyusun personalia pemerintahan di Karesidenan Banten. Untuk menjalankan roda pemerintahan, K.H. Achmad Chatib, terpaksa mempekerjakan kembali para pejabat dan pegawai lama karena merekalah yang memahami urusan birokrasi pemerintahan.

Rakyat merasa tidak senang dengan para pejabat lama yang dinilai pernah menjadi kaki tangan Belanda itu, namun K.H. Achmad Chatib tetap memberi kesempatan kepada para pejabat lama untuk bekerja kembali. Pembagian tugas pun dilakukan; para kiai menangani urusan keamanan, sedangkan para pegawai lama menangani urusan administrasi pemerintahan.

Belanda menghembuskan isu seakan-akan Kesultanan Banten akan dihidupkan kembali dengan Residen Banten sebagai sultan. Isu ini dibantah K.H. Achmad Chatib ketika ia berkunjung ke Yogyakarta. Untuk membatasi ruang gerak Residen Banten, maka diangkatlah Mas Yusuf Adiwinata sebagai wakil Gubernur Jawa Barat yang berkedudukan di Serang. Selain itu, perlahan-lahan para kiai digeser ke jawatan yang berkaitan dengan keahlian mereka seperti Jawatan Keagamaan dan Jawatan Penerangan. Beberapa pejabat profesional dikirim pula oleh pemerintah pusat. Kemudian, Kolonel Soekanda Bratamanggala dikirim ke Banten menggantikan Kolonel K.H. Syam’un yang menjadi Bupati Serang.

Namun demikian, K.H. Achmad Chatib menerimanya dengan ikhlas. Dan dia cukup puas karena telah berhasil meletakkan dasar-dasar pertahanan yang kuat bagi pemerintahan daerah dalam menahan gempuran serangan Belanda. Mungkin, menjadi orang biasa-biasa saja adalah hal yang sudah dianggap alamiah baginya, setelah digeser kedudukannya yang sedemikian tinggi sebagai Residen Banten.

Bisa jadi maksud ketidakberatan K.H. Achmad Chatib ini adalah begini, “kalau mau dihormati di dunia, kita harus punya nama besar. Kalau mau masuk surga, kita harus menjadi anak yang tulus.” Bisa jadi pula, maksud keikhlasan dari K.H. Achmad Chatib yang sudah banyak berjasa ini adalah, kita yang sudah tua ini harus “menjadi” anak kecil lebih dahulu karena anak kecil dianggap tak punya pikiran neko-neko. Maka, setelah itu, setelah mampu tak punya pikiran neko-neko, kita baru mampu tulus merelakan kehilangan jabatan dan tak perlu sampai marah hingga ingin menjatuhkan orang lain yang sudah menggantikan kita. (Rully Ferdiansyah)

Serang-Banten 2019.

 

 

Biodata Penulis

 

  1. Biodata

Nama                                       : Rully Ferdiansyah

Tempat dan Tanggal Lahir      : Serang, 30 Agustus 1985

Alamat                                    : Komp. Pemda Blok A-8, RT01/RW07,

  Cinanggung, Kel. Kaligandu, Serang –

  Banten, 42151

Nomer Telepon                       : (0254) 220668 / 082310832314

 

  1. Pendidikan

1.  SDN Cinanggung, Lulus tahun 1997

2.  SLTPN 01 Cipocok Jaya, Lulus tahun 2000

3.  SMUN 01 Kramatwatu, Lulus tahun 2003

4. Politeknik Piksi Input Serang, Lulus tahun 2007

5. Kelas menulis Rumah Dunia angkatan 17 tahun 2011

 

  1. Pengalaman Kerja

1. Tenaga magang di kampus Politeknik Piksi Input Serang sebagai marketing dan 

    tenaga ahli Komputer selama enam bulan (2006).

2. Sebagai staff  Redaksi dan kartunis di Koran Banten selama satu tahun (2008 -

2009)

3. Sebagai Teknisi Komputer (EDP) bagian Hardware di PT. Nikomas Gemilang -    

                bagian pabrik sepatu Adidas (2009-2012)

  1. Karya tulis yang sudah dipublikasikan.
    1. Tahun-tahun yang hilang di Afrika Selatan: berdiri tegar di bawah bayang-bayang Syaikh Yusuf (Diva Press, Yogya / Mei 2012)
    2. Syam’un; Asal Muasal Lailatul Qadr (Penerbit Republika / Februari 2016)
    3. Identitas Sejati Wong Banten (Artikel Radar Banten)                                                                                                

 

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan