Gedung Joeang 45 Serang Dalam Sejarah


Gedung Joeang 45 Serang Dalam Sejarah

Oleh : Nurazizah

(Pemandu Museum Negeri Banten)

Setiap wilayah di seluruh dunia memiliki peradaban yang dapat dikenali lewat berbagai tinggalan budaya, baik material maupun non-material. Kedua tinggalan budaya tersebut dapat dijadikan sebagai bukti historis adanya peradaban sebuah suku, komunitas, atau bangsa, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Maju atau tidaknya sebuah peradaban seringkali dilihat dari tinggalan-tinggalan arekologisnya yang berasal dari runtutan fase sejarah yang berbeda-beda, dari masa prasejarah sampai masa sejarah. Kedua masa ini meninggalkan jejak-jejak peninggalan kebudayaan yang beragam yang bisa dijadikan sebagai bukti adanya suatu peradaban.

Kebudayaan dalam wujud non-material dapat kita temukan dalam berbagai tradisi lisan dan tulisan seperti peribahasa, teka-teki, mitos, tabu, lagu daerah, dan lain sebagainya. Sedangkan kebudayaan dalam wujud material dapat kita temukan dalam berbagai bentuk dan karakteristiknya, seperti bangunan pemerintah, bangunan rumah, tempat ibadah, artefak, stasiun, pelabuhan, nisan, dan benda-benda cagar budaya lainnya.

Sebagaimana lazimnya masyarakat di daerah lain di Nusantara, masyarakat Banten pernah mengalami berbagai fase perkembangan sejarah dengan beragam corak dan karakteristik budaya yang berbeda-beda antara satu fase dengan fase berikutnya. Sebagai sebuah wilayah yang pernah mengalami beragam fase sejarah tersebut, terntu masyarakat Banten memiliki beragam wujud kebudayaan tinggalan masa lampau, baik dalam wujud material maupun non-material.

Keberadaan peninggalan sejarah dalam wujud material lazimnya berasal dari masa sejarah atau masa setelah mengenal tulisan. Setiap periodisasi sejarah memiliki keunikan dan karakteristik yang berbeda. Salah satu periode sejarah yang cukup menarik dan banyak meninggalkan jejak arkeologis adalah periode kolonial. Setiap kota di wilayah Banten pernah berinteraksi dan bersentuhan langsung dengan periode ini. Sehingga tidak heran jika di seluruh wilayah di Provinsi Banten banyak tersebar bangunan-bangunan tinggalan kolonial yang sampai saat ini masih berdiri kokoh.

Salah satu kota yang memiliki beragam perkembangan historis sejak masa prasejarah sampai masa reformasi adalah Kota Serang. Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa Kota Serang pernah mengalami fase sejarah, terutama fase kolonial adalah adanya bangunan bersejarah Gedung Joeang 45. Gedung Joeang 45 adalah salah satu bangunan tinggalan Kolonial Belanda yang menjadi saksi pergerakan rakyat Banten melawan Kolonial Belanda. Bangunan Gedung Juang 45 terletak di Jalan Ki Mas Jong No. 15 Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Serang, Kota Serang, Provinsi Banten. Bangunan bersejarah ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) pada tanggal 8 Januari 2010.

Berdasarkan undang-undang pemerintah Hindia Belanda baru, yaitu Regeerings-Reglement (RR) tahun 1854, Kota Serang ditetapkan sebagai pusat administrasi pemerintah Kolonial Belanda. Letaknya yang sangat strategis sebagai jalur perdagangan rempah-rempah, serta wilayahnya yang berdekatan dengan pusat pemerintahan Hindia Belanda di Batavia menjadi alasan kuat dibangunnya beberapa gedung infrastuktur sebagai  penunjang pelaksanaan pemerintahan.  

Pembangunan gedung-gedung pada masa Pemerintah Kolonial Belanda dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan adanya tempat atau ruang yang sesuai dengan keinginan untuk memberikan kemudahan, kenyamanan maupun perlindungan. Perbedaan iklim dan kondisi alam antara Eropa (Sub-tropis) dan Asia Tenggara (Tropis) membawa dampak ketidaknyamanan bangsa Eropa khususnya bangsa Belanda di Indonesia yang bersifat sementara (temporary), maka para arsitek Eropa menerapkan struktur bangunan dengan model dinding tebal dan tinggi, pola sirkulasi udara yang cepat masuk ke dalam ruangan melalui ventilasi maupun pintu yang lebar, dan berteras. Selain itu, untuk melengkapi komponen arsitektur pada bangunan dibuat memiliki corak tersendiri seperti digunakannya jendela atau pintu dalam jumlah yang banyak atau mencirikan satu sisi tampilan dari bangunan kolonial itu sendiri. Agar tercipta suatu kondisi yang lebih serasi dengan alam, maka vegetasi di lingkungan sekitarpun ditata sedemikian rupa.

Bangunan Gedung Joeang 45 pada masa awalnya difungsikan sebagai barak militer Belanda atas usulan dari Letnan Jendral Anthing kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang tertuang dalam suratnya tanggal 29 agustus 1818. Bangunan ini didirikan untuk memenuhi fasilitas keamanan pada kota karesidenan dari pemberontakan dan gangguan keamanan lainnya. Selain itu, alasan lain didirikannya gedung tersebut karena kondisi tangsi militer yang dulu sudah rusak dan akibat masih banyaknya kekacauan serta pemberontakan dari ketidakpuasan orang-orang Banten setelah dihancurkannya Keraton Surosowan, Banten.

Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini diambil oleh tentara Jepang dan dialihfungsikan sebagai markas Polisi Militer Jepang atau yang dikenal sebagai Kempetai. Kempetai atau Satuan Polisi Militer adalah satuan polisi militer Jepang yang terkenal dengan kekejamannya yang ditempatkan di seluruh wilayah Jepang termasuk daerah jajahannya. Pendudukan Jepang di Kota Serang tidak belangsung lama, karena masyarakat yang pada masa itu dibantu oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Serang, Banten melakukan penyerbuan dan melucuti senjatanya yang pada akhirnya berhasil diduduki oleh masyarakat Banten. Penyerangan yang membuahkan hasil tersebut dipimpin oleh K.H Syam’un pada tanggal 10 Oktober 1945.

Bentuk arsitektur bangunan Gedung Juang 45 berdenah persegi panjang. Luas bangunan ± 863.19 m2 , luas lahan 4.000 m2, dan tinggi bagunan mencapai 11 m. Bangunan ini memiliki 3 buah anak tangga pada bagian depan dan 3 teras di setiap sisinya. Bangunan Gedung Joeang 45 ini pada awalnya hanya berupa tiga buah gedung yang bentuknya sama. Namun, sekarang gedung yang masih menunjukkan bentuk keasliannya dijadikan sebagai kantor Dewan Harian Daerah Pejuang 45. Kedua bangunan yang lainnya kini digunakan sebagai Kantor Didokes Polda Banten dan Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Serang.

Bangunan Gedung Juang 45 ini terdiri atas bangunan utama, rumah perwira, barak militer untuk prajurit, dapur, kandang kuda, dan poliklinik. Bangunan ini dibuat dari bahan-bahan yang tahan lama seperti kayu jati, genteng dari tanah liat, rotan, dan konstruksi bangunan dari bahan bata merah. Namun, seiring perkembangan kota pada masa kini, banyak bagian-bagian elemen pada bangunan yang mengalami kerusakan dan pelapukan. 

Ciri khas utama dari bangunan kolonial adalah adanya tiang di bagian depan teras. Tiang pada bangunan ini berjenis tuscan yang mengelilingi teras dan berukuran besar. Tiang tuscan merupakan salah satu arsitektur Romawi Klasik yang memiliki hiasan melingkar pada kepala tiangnya. Ciri khas seperti ini dapat dijumpai pada bangunan Gedung Joeang 45 dan beberapa bangunan kolonial lainnya di Serang, seperti Gedung Eks Karesidenan dan Kantor Bupati Serang.

Kondisi terkini dari bangunan Gedung Joeang 45 Serang sangat memprihatinkan.

Bangunan tampak kumuh dan tidak terawat. Ini harus menjadi perhatian semua lapisan masyarakat. Tidak hanya pemerintah yang berwenang, tapi juga masyarakat sekitar Gedung Joeang 45. Bangunan yang menjadi saksi sejarah ini harus terus lestari agar kelak generasi di masa mendatang bisa merasakan betapa hikmah masa lalu itu indah untuk dipelajari.

Sumber : Irfan Robianto, Upaya Pelestarian Bangunan Gedung Joeang 45 Kota Serang,

Banten, Yogyakarta, Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, 2017.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang, Cagar Budaya Kabupaten Pandeglang, 2015

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan