Biografi Prof. KH. M. Sjadzli Hasan


Biografi Prof. KH. M. Sjadzli Hasan

 

Oleh : Nurazizah

(Pemandu Museum Negeri Banten)

 

Dalam catatan sejarah Banten selalu diidentikan dengan wilayah yang religius dan negerinya para ulama. Banyak ulama yang lahir di Banten dan memiliki peran yang strategis dalam tatanan kehidupan masyarakat Banten. Ulama Banten tidak hanya tampil dalam mengajarkan dan mentransmisikan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai perubahan dinamika sosial dan politik yang terjadi di Banten sejak masa lampau sampai saat ini.

Tersebutlah Prof. KH. M. Sjadzli Hasan, seorang tokoh yang memiliki peranan besar dalam bidang agama, pendidikan, sosial dan politik di Banten dan di Indonesia. Tak heran jika Ia dikenal sebagai ulama, negarawan, pejuang, pemikir dan akademisi. Prof. KH. M. Sjadzli Hasan, atau yang disingkat menjadi MSH lahir di kampung Beji, Bojonegara, Cilegon, pada tanggal 24 Oktober 1914. Ayahnya bernama KH. Hasan dan ibundanya bernama Hj. Zenab.

Prof. KH. M. Sjadzli Hasan adalah tokoh yang hidup dalam lima zaman; Pemerintahan Kolonial Belanda, Pemerintahan Jepang, Masa Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama, dan Orde Baru. Berbicara mengenai sosok Prof. KH. M. Sjadzli Hasan, akan lebih mudah mengetahuinya dengan menggali tiga lingkungan budaya yang secara alami membentuk karakter dan jati dirinya hingga menjadi seorang tokoh yang patut diperhitungkan. Tiga lingkungan tersebut di antaranya adalah Kampung Beji, Al Khairiyah, dan Kairo, Mesir.  

Kampung Beji (1914 – 1926) adalah sebuah kampung yang berada di Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Dikenal sebagai kampung dengan lingkungannya yang agamis. Banyak ulama-ulama besar Banten yang lahir dan tumbuh menghabiskan masa kecilnya di kampung ini. Di antaranya adalah Kyai Soleh dan Kyai Idris (murid Sunan Ampel), KH. Wasid, tokoh penggerak peristiwa Geger Cilegon tahun 1888, dan KH. Syam’un, tokoh pendiri Perguruan Islam Al Khairiyah, Cilegon.

Secara historis Kampung Beji adalah kampung yang pelestarian tradisinya terikat kuat dengan Islam dan sejarah Kesultanan Banten. Selain itu kampung ini dikenal sebagai kampung dengan penyebaran Islam yang cukup pesat. Penyebaran Islam di kampung ini dilakukan di lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan majlis ilmu. Hal lain yang menjadi daya tarik sejarah di Kampung Beji adalah dilestarikannya pencak silat jenis Terumbu sebagai seni bela diri. Tradisi ini diajarkan sejak dini kepada anak-anak dan para pemuda Kampung Beji dengan tujuan untuk mempertahankan diri, menjaga jati diri dan menjaga kehormatan diri. Lahir dan tumbuh di lingkungan masyarakat yang agamis membentuk dirinya menjadi orang yang berwawasan agama yang cukup luas.

Pendidikan dasar Sjadzli Hasan ditempuhnya di Sekolah Rakyat (Vervolgschool) Bojonegara, dan tamat pada tahun 1926. Di masa kecilnya Sjadzli Hasan mendapatkan pendidikan agama dan dasar-dasar keislaman seperti Al-Qur’an, Hadits, Akhlak, dan Nahwu Sorof  langsung dari ayahnya KH. Hasan dan kakeknya KH. Adam.

Lingkungan selanjutnya yang membentuk karakter dan jati diri Sjadzli Hasan adalah Al Khairiyah (1926 – 1933). Setelah menamatkan pendidikannya di Vervolgschool, ia melanjutkan pendidikan di Pesantren/Madrasah Tsanawiyah Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon, yang diselesaikannya pada tahun 1932. Di lembaga pendidikan ini ia mendalami pengajaran Islam di bawah bimbingan langsung KH. Syam’un. Di madrasah ini ia mendalami ilmu-ilmu keislaman seperti  Nahwu, Shorof, Tafsir, Hadits, Tarikh, Balaghah, dan Kalam. Setalah menyelesaikan pendidikannya di Al-Khairiyah ia diangkat menjadi salah seorang tenaga pengajar di sana.

Selama mengabdi di Al-Khairiyah ia dikenal aktif bahkan dipercaya untuk menjadi pengurus (sekretaris II) dalam sebuah organisasi kepemudaan Al-Khairiyah yang dibentuk pada 21 Juni 1931 yaitu Jam’iyyah Nahdlotusy Syubbanil Muslimin (Perkumpulan Kebangkitan Pemuda Islam yang selanjutnya disingkat JNSM). JNSM adalah organisasi yang mengasah jiwa aktivis Prof. KH. M. Sjadzli Hasan, juga membentuk kepeduliannya terhadap anak yatim, orang miskin dan golongan yang tidak beruntung.

Lingkungan ketiga adalah Kairo (1933 – 1939). Satu tahun kemudian ia melanjutkan pendidikan di Al- Azhar university, Kairo, Mesir, dan mendapat ijazah Al-Ahliyah Li al-Ghuraba pada tahun 1934. Dengan ijazah yang diperolehnya ini ia melanjutkan kuliah di Darul Ulum Kairo University ( Al-Jamiah al-Qahirah) pada jurusan Tadris Li al-Dirasah al Islamiyah. Ia menamatkan kuliah di universitas ini pada tahun 1939 dan meraih gelar Sarjana dalam Studi Islam dengan konsentrasi bidang Syariah. Jenjang pendidikan ini ia tempuh kurang lebih selama enam tahun.

Ketika masih kuliah di Al Azhar, universitas tertua di dunia Islam itu telah mengalami pembaruan kurikulum dan manajemen pendidikan di dalamnya. Pembaruan ini tidak lepas dari upaya seorang tokoh pembaruan Mesir abad ke-19 yaitu Muhammad Abduh, yang memperjuangkan ide dan gerakan umat Islam agar terlepas dari kolonialisme. Hal ini mempengaruhi pemikiran Sjadzli Hasan mengenai pentingnya sebuah perubahan. Secara bersamaan pada tahun 1930-an di Tanah Air sedang tumbuh subur organisasi-organisasi kepemudaan, kedaearahan, dan kemasyarakatan yang bergerak memperjuangkan kemerdekaan nasional dan melepaskan diri dari ancaman kolonialisme. Organisasi-organisasi tersebut di antaranya adalah Jong Java, Sarekat Islam, Budi Utomo, Perhimpunan Indonesia Raya (Indische Vereeniging), Indische Patij, dan lain sebagainya.

Salah satu organiasi atau perhimpunan yang memberikan pengaruh besar dan mewarnai pergerakan politik dengan semangat nasionalisme terutama kepada para mahasiswa yang berada di perantauan  adalah Perhimpunan Indonesia Raya (Indisch Vereeniging, sebuah organisasi yang didirikan oleh 20 orang mahasiswa Indonesia yang kuliah di negeri Belanda pada 15 November 1908. Keberadaan himpunan ini pengaruhnnya sangat kuat di kalangan mahasiswa Indonesia yang kuliah di berbagai negara termasuk Mesir. Sehingga mahasiswa Indonesia banyak melakukan pergerakan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan Pemerintah Kolonial Belanda, sehingga mereka mengirim beberapa petugas spionase untuk memata-matai pergerakan mahasiswa Indonesia di Kairo. Salah satu mahasiswa di Kairo yang aktif melakukan pergerakan politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah Sjadzli Hasan, diketahui bahwa Ia selalu menjadi obyek pengawasan mata-mata Belanda di Kairo.

Dalam karir politiknya, Sjadzli Hasan pernah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), suatu lembaga yang dibentuk oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945. Kemudian ia aktif di Partai Masyumi pada tahun 1950, menjadi wakil ketua Badan Eksekutif Karesidenan Banten, anggota Dewan Pemerintah Daerah Sementara (DPDS) Jawa Barat, anggota Dewan Keamanan Pertahanan Daerah Banten, dan  menjadi anggota Konstituante setelah pemilu pertama pada masa Orde Lama. Ketika masa revolusi kemerdekaan, Ia memilih aktif sebagai tentara pelajar yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945 -  1959).

Di dunia akademisi kiprah Sjadzli Hasan sudah tidak diragukan lagi. Setelah kembali dari Kairo Ia bersama teman-temanya antara lain Prof. A. Kahar Muzakkir, mendirikan Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta (sekarang menjadi UII) dan ia mengajar di sana dengan pangkat Lektor. Sjadzli Hasan juga dikenal sebagai Founding Father lahirnya Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Serang yang pada tahun 2004 berubah nama menjadi Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Bahkan namanya diabadaikan sebagai nama sebuah gedung di perguruan tinggi tersebut yang saat ini kembali berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Sjadzli Hasan juga pernah menjadi dosen di Akademi Dinas Agama Islam (ADIA) pada tahun 1960. Dalam ranah sosial kemasyarakatan, Sjadzli Hasan dikenal sangat aktif dan penuh pengabdian.

Mengutip sabda Nabi Muhammad bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Kebermanfaatan hidup seorang Prof. KH. M. Sjadzli Hasan akan tercatat dan terabadikan dalam sejarah. Menjadi tauladan untuk kehidupan di masa depan.

*Sumber :

Bantenologi, Biografi Ulama Banten Seri Ke-1, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten, 2014.

Pontirtainfo.blogspot.com

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan