Abuya Tb. Abdul Halim : Ulama dan Birokrat dari Pandeglang


Abuya Tb. Abdul Halim : Ulama dan Birokrat dari Pandeglang

 

Oleh : Nurazizah

(Pemandu di Museum Negeri Banten)

 

Banten adalah sebuah wilayah yang dikenal memiliki sejarah yang panjang dan beragam. Banten juga dikenal sebagai wilayah yang religius dengan pengaruh keislaman yang sangat besar. Hal ini tidak lain adalah karena adanya peran ulama-ulama yang menyebarkan agama Islam di Banten. Snouck Hurgronje orientalis kebangsaan Belanda memuji ulama-ulama Banten dengan ungkapan The most highly esteemed leaders of the intellectual movement originate in most cases from Banten, yang artinya bahwa sebagian besar asal para ulama paling dihormati, penggagas gerakan intelektual berasal dari Banten. Snouck juga mengungkapkan bahwa Tidak ada satu tempat pun di Nusantara menandingi daerah Jawa bagian Barat (Banten) yang keterwakilannya begitu lengkap karena keberadaan ulama dengan kualitas tingkat satu dan keberadaan pelajar dari semua tingkatan usia.

Dalam perkembangan kesejarahan Banten peran ulama sangatlah menentukan. Dalam masyarakat Banten yang dikenal dengan religiusitasnya peran ulama tidak hanya sebatas sebagai tokoh agama saja. Saat ini, kelompok ulama telah menjadi kelompok elit kultural di Banten dan memegang peranan politik di wilayah ujung Barat Pulau Jawa ini.

Dalam masyarakat Banten keterlibatan ulama dalam ranah politik merupakan fenomena yang berlangsung sejak lama. Pada era Kesultanan Banten mereka secara formal terlembagakan sebagai Qadi. Pejabatnya disebut Faqih Najamuddin. Qadi di Banten memainkan peranan kunci dalam intrik-intrik politik yang terjadi di istana, misalnya dalam hal suksesi kepemimpinan.

Peran ulama di masyarakat di Banten tidak hanya  dalam urusan agama saja, melainkan juga dalam ranah sosial dan politik. Sebagai tokoh agama ulama biasanya bertindak sebagai pemimpin dalam aktifitas ibadah seperti shalat, khutbah, dan do’a dalam upacara-upacara keagamaan seperti tahlilan dan slametan dan lain sebagainya. Sebagai pelayan sosial, seringkali mereka bertindak sebagai tumpuan tempat masyarakat bertanya dan meminta nasihat mengenai berbagai persoalan, bahkan seringkali berperan sebagai tenaga medis, tempat meminta layanan penyembuhan berbagai penyakit lewat kekuatan supranatural atau magis yang mereka miliki. Sedangkan dalam dunia politik, mereka melakukan perannya yang terkait dengan kepentingan masyarakat secara umum, baik melalui partai politik langsung atau tidak langsung, organisasi-organisasi politik maupun lewat saluran-saluran lain yang bisa dilakukan.  

Setelah Indonesia merdeka Residen Banten pertama, KH. Ahmad Chotib menyusun sistem pemerintahan daerah Banten dengan melibatkan para ulama dalam tatanan pemerintahan. Sehingga yang menduduki jabatan dalam pemerintahan dari lurah sampai bupati dijabat oleh kelompok ulama. Tercatat KH. Syam’un sebagai Panglima Divisi Seribu merangkap sebagai Bupati Serang, KH. Tb. Abdul Halim sebagai Bupati Pandeglang, dan KH. Muh. Hasan sebagai Bupati Lebak.

Pandeglang adalah salah satu wilayah di Banten yang dijuluki kota seribu ulama sejuta santri. Hal ini karena di Pandeglang terdapat banyak ulama yang berkiprah di dunia pesantren dengan jumlah jumlah santri yang cukup banyak. Salah satu ulama yang memiliki peran yang strategis di Pandeglang adalah KH. Tb. Abdul Halim dari Kadu Peusing, Pandeglang yang menjadi Bupati Pandeglang pertama yang berasal dari kalangan ulama. Abuya Tb. Abdul Halim juga merupakan salah satu tokoh penting dalam gerakan sosial, politik, dan keagamaan di Pandeglang.

     Abuya Tb. Abdul Halim adalah ulama kharismatik yang lahir sekitar tahun 1885 di Desa Kadu Peusing, Kelurahan Kabayan, Kecamatan Pandeglang. Ia lahir di lingkungan keluarga yang agamis dan taat beragama. Ayahnya juga seorang ulama terkemuka di Pandeglang, yaitu KH. Tb. Muhammad Amien yang silsilahnya sampai kepada Sultan Maulana Hasanuddin Banten. KH. Tb. Muhammad Amien menikah dengan seorang perempuan yang berasal dari daerah Kadu Peusing, Pandeglang. Dari hasil pernikahannya KH. Tb. Muhammad Amien dikaruniai sembilan orang putra, di antaranya adalah (1) Hj. Ratu Bayi, (2) Hj. Garwa Kusuma, (3) H. Tb. Adnan, (4) Hj. Ratu Aisyah, (5) Hj. Ratu Sawijah, (6) H. Tb. Marjuk, (7) H. Tb. Idrus, (8) Hj. Ratu Mariam, dan (9) KH. Tb. Abdul Halim.

Abuya Tb. Abdul Halim menghabiskan masa mudanya untuk belajar ilmu agama kepada beberapa tokoh agama Islam di berbagai pondok pesantren di Banten. Di antaranya adalah berguru kepada Kyai Kananga dan Kyai Saijin yang memiliki pondok pesantren di Kamasan, Anyer. Bersama dengan Syeikh Asnawi Caringin Abuya juga mendalami Tarekat Qodariyah pada Syeikh Nawawi Tanara. Setelah belajar dari satu pesantren ke pesantren lain Abuya menikah dengan seorang gadis yang berasal dari Kadu Bale, Pandeglang, yaitu Hj. Urian. Dari pernikahannya dengan Hj. Urian dikaruniai empat orang anak, yaitu (1) Hj. Ratu Aisyah, (2) Hj. Ratu Piyok, (3) H. Tb. Muhammad, dan (4) H. Tb. Syatibi.

Melihat sangat minimnya orang yang memiliki pengetahuan agama di kampungnya, Abuya Tb. Abdul Halim mendirikan pondok pesantren di Kadu Peusing, Pandeglang. Para santri yang belajar di pesantren tidak hanya berasal dari penjuru/daerah Banten saja melainkan dari berbagai daerah di luar Banten. Sistem yang abuya terapkan dalam pengajaran di pondok pesantren berupa sistem pengajian sorogan dan bandungan. Ilmu-ilmu yang diajarkan kepada para santri adalah Ilmu Al-Qur’an, Aqidah, Tauhid, Nahwu, Shorof, Fiqh, dan lain sebagainya. Bahan ajar yang digunakan adalah kitab-kitab karangan Syeikh Nawawi Tanara. Sehingga tidak heran jika pemikiran-pemikiran Abuya Tb. Abdul Halim banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Syeikh Nawawi Tanara

Para santri yang telah belajar kepada Abuya saat ini banyak yang telah berhasil menjadi ulama besar, mendirikan pesantren, madrasah, dan menjadi guru mengaji. Di antara sebagian muridnya yang ternama adalah : (1) KH. Memed Cikadueun, (2) Abuya Dimyati, (3) KH. Zakariya, (4) Syeikh Ahmad Bashuri Bin Thohir Al Kalurani, (5) Abuya Sanja Cigintung, (6) KH. Ahmad Bustomi Cisantri, (7) Abuya Damanhuri Cikadueun, (8) KH. Syamsuddin Serang, dan (9) KH. Syanwani bin Abdul Aziz (Buya  Sampang Tirtayasa).

Selain belajar ilmu agama di tanah air, Abuya juga pernah belajar di tanah suci. Setelah menikah dan memiliki anak Abuya pergi menunaikan ibadah haji sekaligus menetap di sana selama sekitar 20 tahun untuk belajar banyak ilmu agama pada syech-Syeikhbesar di tanah suci. Pada saat pergi ke tanah suci pengajaran di pondok pesantren untuk sementara dikelola oleh menantunya.

Abuya Tb. Abdul Halim adalah ulama yang dikenal dengan sifat waro’i nya, salah satu muridnya yakni Abuya Dimyati pernah mengatakan “la a’lama wa awra’a illa Abuya Abdul Halim”. Belum pernah saya temui seorang tokoh yang berilmu tinggi dan waro’ selain Abdul Halim. Abuya tidak hanya dikenal karena waro’i nya, tapi juga dikenal sebagai tempat masyarakat meminta nasihat dan do’a ketika hendak terjun ke medan perang. Itulah mengapa peran ulama sangat penting dalam pembinaan moral masyarakat. Sehingga selain menjadi penasihat juga terkadang ada ulama yang menjadi pemimpin dan konseptor dalam perlawanan terhadap para penjajah.

Salah satu peran ulama yang paling penting sebagai patron kelompok Islam adalah peran mereka sebagai wakil masyarakat dalam kelompoknya, serta peran mereka sebagai pengantar dalam menjalin hubungan dengan wakil-wakil di luar kelompoknya dalam rangka melindungi kepentingan masyarakat serta lembaga-lembaga Islam. Peran ini juga menjadi tanggung jawab yang harus diemban oleh Abuya Tb. Abdul Halim sebagai Bupati untuk masyarakat Pandeglang.

Setelah Indonesia merdeka Abuya Tb. Abdul Halim ditunjuk sebagai Bupati Pandeglang oleh Residen Banten pertama KH. Ahmad Chotib. Berita pengumuman aparat pemerintah daerah disampaikan oleh perwakilan Dewan Rakyat kepada Abuya sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu Abuya sedang mengajar santri-santrinya di Kadu Peusing.  Abuya hendak menolaknya tetapi karena ini adalah amanah dari rakyat dan Residen Banten Abuya akhirnya menerimanya. Setelah pengumuman itu Abuya diangkat menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Pandeglang. Selama menjadi bupati maka pengajaran di pesantren Kadu Peusing dipercayakan kepada menantunya yaitu KH. As’ad. Walaupun Abuya menjadi bupati tetapi urusan umat tak pernah ditinggalkan malah ia membawa sendiri pengajian-pengajian masyarakat ke Pendopo Kabupaten.

Selama menjabat sebagai bupati Abuya lebih memfokuskan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan dibanding pembangunan. Karena awal pemerintahan Abuya menjadi bupati merupakan titik awal kemerdekaan Indonesia sehingga masih difokuskan pada segi pengamanan daerah Pandeglang. Adapun kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Abuya selama menjadi Bupati Pandeglang di antaranya adalah dalam hal perdagangan dan penyediaan sarana ibadah.

Dalam hal perdagangan Abuya melakukan kebijakan berupa perubahan hari pasar. Di mana sebelumnya hari pasar di Pasar Pandeglang—dulu disebut Pasar Badak—adalah setiap hari Jum’at kemudian diubah menjadi hari Selasa, karena dikhawatirkan kepadatan di pasar akan menggangu rutinitas ibadah di hari Jum’at. Kemudian kebijakan Abuya dalam penyediaan sarana ibadah dilakukan di setiap stasiun kereta api yang ada di Pandeglang agar memudahkan umat Muslim untuk beribadah. Selain itu jabatan lurah di beberap desa di Pandeglang dijabat oleh orang-orang yang berasal dari kalangan santri atau  ulama. Seperti KH. Asnadi bin H. Jasrip (Kadu Jurig, Cipeucang), KH. Abdul Manan Garobog, dan lain sebagainya.

Pada bulan Februari 1947 Abuya mengajukan pengunduran diri untuk berhenti sebagai Bupati Pandeglang. kemudian direstui oleh Pemerintah Jawa Barat yang diwakili oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Mr. Yusuf Adiwinata. Setelah berhenti menjadi Bupati Pandeglang Abuya terus berjuang di luar pemerintahan untuk membantu pemerintah melawan serangan Agresi Militer Belanda II yang kembali masuk ke wilayah Banten khususnya Pandeglang. sehingga pada tahun 1948 Abuya sempat mengungsi ke Cimanuk bersma-sama dengan Mayor Zahra. Selanjutnya pada tahun 1949 terjadi gencatan senjata antara Pemerintah Republik Indonesia dengan pasukan Belanda dan pada tahun yang sama Abuya kembali melanjutkan pengabdian dirinya untuk memimpin dan mengajar pondok pesantren Kadu Peusing yang sebelumnya dilimpahkan kepada menantunya.

Pada tanggal 16 Dzulqo’dah 1378 H bertepatan dengan tanggal 24 Mei 1959 M Abuya Tb. Abdul Halim meninggal dunia dan dimakamkan di makam keluarga di daerah Kadu Peusing. Sebelumnya Abuya terjatuh di kamar mandi ketika hendak berwudhu, kemuadian menderita sakit dalam waktu yang cukup lama sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir di usia 74 tahun. Kepergian Abuya meninggalkan luka yang teramat dalam di hati keluarga dan masyarakat Pandeglang. 

Mengutip sebuah pribahasa “Gajah mati meninggalkan gadingnya. Harimau mati meninggalkan belangnya. Manusia mati meninggalkan namanya”. Ketika seseorang meninggal dunia yang akan dikenang oleh manusia adalah jasa-jasanya, kebaikannya, dan tentunya ilmu yang telah disampaikan pada orang lain akan terus bermanfaat dan mengalirkan kebaikan. Pun dengan Kiprah Abuya Tb. Abdul Halim ulama yang banyak berkontribusi untuk masyarakat Banten dan ulama yang telah melahirkan ulama-ulama besar di Banten, namanya akan terus terkenang sepanjang masa.

*Sumber :

            Siti Nur Imamah, Kiprah Ulama Birokrat Abuya Tb. Abdul Halim Kadu Peusing dalam Memperjuangkan Banten, Serang : Bantenologi, 2017

            Tihami,  Prosopografi Syeikh Nawawi (1813 – 1897) Biografi, Genealogi Intelektual, dan Karya, Serang : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten, 2014.

            http://muhtadiblog.blogsspot.com/2012/02/abuya-abdulhalim-kadu-peusing.html


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan