Mengenal Sejarah Melalui Arsip dan Museum


Mengenal Sejarah Melalui Arsip dan Museum

Oleh : Nurazizah

(Pemandu di Museum Negeri Banten)

 

Istilah masa lalu adalah investasi untuk masa depan bukan hanya jargon semata. Sejatinya eksistensi kita saat ini merupakan buah dari segala daya dan upaya di masa lalu dan kreatifitas kita sekarang akan menentukan masa depan kita. Apa yang kita miliki dan rasakan sekarang merupakan hasil rintisan dari para pendahulu  kita. Mempelajari masa lalu berarti kita akan mempelajari sejarah. Sejarah bisa dipelajari tentu karena adanya warisan sejarah. Ketika berbicara tentang warisan sejarah, apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang di masa kini agar generasi mendatang masih bisa mempelajarinya? Jawabannya adalah dengan menjaga memori kolektif bangsa. Memori kolektif bangsa yang merupakan warisan sejarah  ini wujudnya beragam bisa berupa kebendaan (tangible) atau tak benda (intangible). Beragam informasi, seperti ilmu pengetahuan, sejarah, kebudayaan, agama, dan lain sebagainya terekam dalam warisan sejarah tersebut. Warisan sejarah inilah yang menjadi bukti terkuat bahwa suatu kisah atau peristiwa pernah terjadi di suatu masa tertentu.

    Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong manusia untuk ‘melek’ terhadap peranan warisan-warisan sejarah di masa mendatang yang sejatinya merupakan kekayaan bangsa. Dalam hal ini warisan sejarah yang dimaksud adalah arsip dan benda-benda peninggalan sejarah. Kedua hal ini dapat ditemukan dengan mudah di kearsipan dan museum. Kedua instansi ini memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam menyediakan informasi mengenai sejarah perjalanan bangsa bagi masyarakat.

Apa yang bisa kita dapatkan dari arsip dan museum? Pengalaman estetik akan datang melalui mata ketika kita mengunjungi museum dan melihat patung, artefak, miniatur bangunan bersejarah, fosil, gambar dan lain sebagainya. Saat itu pikiran kita akan dibawa mundur ke suatu masa tertentu dan merasakan suasananya. Demikian pula keindahan sejarah dapat terbayang lewat lembaran-lembaran arsip yang kita baca dan film-film dokumenter yang kita tonton. Kita bisa melihat masa lalu yang jauh di belakang dengan mudah, sebab museum-museum dapat dengan mudah dikunjungi dan arsip-arsip dapat dengan mudah diakses.

Arsip dan museum sering dipandang sebagai dua hal yang berbeda. Hubungan antara keduanya kerap kali dipisahkan, padahal keduanya memungkinkan untuk berkolaborasi. Pemisahan cara pandang biasanya diawali dengan pandangan bahwa kegiatan di museum hanya mengelola artefak, sedangkan kearsipan akrab dengan pengelolaan terhadap rekaman grafis. Sesungguhnya bila ditinjau dari ilmu dokumentasi, hubungan antara museum dan kearsipan bisa dikatakan masih “bersaudara”. Disebut bersaudara karena keduaya erat dengan kegiatan dokumentasi dalam arti luas, yakni mengumpulkan, mengadakan, mencatat, menyimpan, mengolah koleksi dan menyajikan atau mengomunikasikannya kepada publik.

Dalam Undang-undang no 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, arsip diartikan sebagai rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kearsipan adalah suatu proses mulai dari penciptaan, penerimaan, pengumpulan, pengaturan, pengendalian, pemeliharaan dan perawatan serta penyimpanan dokumen menurut sistem tertentu. Saat dibutuhkan dapat dengan cepat dan tepat ditemukan. Sedangkan pengertian museum menurut ICOM (International Council of Museum) adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan dalam melayani masyarakat, terbuka untuk umum, memperoleh, mengawetkan, mengkomunikasikan dan memamerkan barang-barang pembuktian manusia dan lingkungan untuk tujuan pendidikan, pengkajian, dan hiburan.

Dilihat dari fungsinya antara arsip dan museum memiliki kesamaan yaitu menjaga dan melindungi bukti-bukti dan warisan sejarah. Perbedaan yang paling mencolok di antara keduanya adalah materi yang disimpan, teknik perawatan, dan penggunanya. Arsip menyimpan media yang lebih banyak berupa kertas atau audio visual, sedangkan museum menyimpan artefak atau benda-benda peninggalan sejarah. Teknik perawatan antara keduanya juga berbeda mengingat bentuk medianya yang berbeda satu sama lain. Kemudian orang yang bisa mengakses arsip itu dibatasi, sedangkan museum tidak dibatasi. Masyakarat dari semua kalangan usia bisa masuk ke museum.

Dibalik perbedaan itu pada hakikatnya keduanya saling berkesinambungan. Kolaborasi antara arsip dan museum bisa memanfaatkan perkembangan teknologi yang semakin maju. Hubungan keduanya akan semakin erat tatkala manusia dimanja dengan hadirnya teknologi yang memudahkan keduanya bertukar data. Dokumen-dokumen arsip bisa mendukung penjelasan lebih mendalam tentang koleksi-koleksi yang dipamerkan di museum. Sehingga informasi yang masyarakat dapatkan lebih akurat.

Hal terpenting yang bisa didapatkan dari arsip dan museum adalah masyarakat bisa mengenal sejarah dan mempelajarinya secara terperinci. Dengan membuka arsip dan mengunjungi museum diharapkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sejarah bangsanya semakin besar. Indonesia masih tertinggal dalam pendidikan untuk mencintai tanah air lewat keindahan sejarah. Maka dari itu, ayo belajar sejarah, dengan belajar sejarah kita belajar jatuh cinta.

 

Sumber :

Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2013

Buletin Cagar Budaya, Vol V/2017, Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber-sumber dari beberapa media online

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan