BENANG MERAH ARSIP DAN SEJARAH


BENANG  MERAH ARSIP DAN SEJARAH

Oleh: Encep Supriatna

Email: cepsup1976@gamil.com

 

  1. Pendahuluan

Dua tahun lalu, penulis menyaksikan sebuah reportase  dan hasil liputan di salah satu TV Swasta nasional yang dibawakan oleh salah satu Host ternama Najwa Sihab, liputan tersebut  seolah mebawa diiri kita yang menyaksikan pada suasana awal abad ke 19 di Indonesia, terutama saat akhir-akhir penjajahan kolonial Belanda di Nusantara. Liputan tersebut memuat peristiwa penting dalam fase perjalanan sejarah Indonesia teruatama masa pergerakan nasional ketika beberapa tokoh nasional banyak yang dieksternir (diasingkan ke luar negeri) terutama ke negeri kincir angin, tokoh-tokoh tersebut antara lain Drs. Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Ali Sastro Amidjoyo, Mr. Iwa Kusuma Sumantri dan sederetan tokoh pergerakan Nasional lainnya. Tulisan ini tidak akan mengupas tentang sepak terjang para tokoh tersebut di luar negeri seperti Moh. Hatta yang mendirikan Indische Vereniging (IV).

            Kembali ke soal liputan di TV Swasta tersebut merekam jejak sejarah Belanda di Indonesia termasuk Museum dan juga Universitas Leiden tempat di mana arsip-arsip penting tentang Indonesia tersimpan rapih di sana, oleh karena itu jangan heran kalau kita mengunjungi museum, kantor arsip nasional kita akan mendapatkan beberapa arsip yang hanya duplikatnya saja, sementara asli tersimpan di negeri kincir angin. Salah satu tokoh Banten yang pernah mengeyam pendidikan Barat di negeri Belanda adalah Hussein jayadiningrat, putera dari Bupati (regent) Serang yaitu Ahmad Jayadiningrat dengan ratu Aisyah. Husein jayadiningrat menempuh program doktoral di Universitas Leiden dan berhasil menulis dan mempertahankan disertasi yang berjudul: “Tinjauan Kritis Sejarah Banten”, Husein Jayadiningrat adalah orang pertama di Indonesia yang berhasil memperoleh gelar doktor pada saat itu. Dalam liputan tersebut Najwa Sihab  tampak mengunjungi Universitas Leiden di mana Husein Jayadiningrat pernah kuliah dan menuntut Ilmu di sana, tiba saatnya ia mengunjungi perpustakaan Universitas dan bagian Arsip Universitas, dan di sana Mbak nana (panggilan akrab Najwa Sihab) di tunjukkan oleh petugas arsip universitas daftar mahasiswa yang pernah belajar di Universitas Leiden, dan tertera nama Husein Jayadiningrat lengkap dengan nomor stambuknya,  sungguh luar biasa sistem kearsipan mereka arsip pertengah abad ke 18 masih tersimpan dengan rapih dan mudah untuk dicari sehingga terlihat jelas jejak-jejak sejarah para tokoh nasional Indonesia maupun orang Indonesia yang pernah bermukin dan mengenyam dunia pendidikan di negeri bawah angin tersebut.

Gambaran reportase jurnalistik tersebut memberikan inspirasi bagi kita insan arsip di tanah air bahwa begitu pentingnya arsip tersebut sebagai salah satu dokumen sejarah yang merekam peristiwa di masa lampau. Kembali lagi kita diingatkan dengan pengertian arsip yang merupakan  rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Arsip dinamis adalah arsip yang digunakan secara langsung dalam kegiatan pencipta arsip dan disimpan, (PP nomor 43 tahun 2009 tentang kearsipan). Menurut Betty R. Ricks (dalam Supriatna, 2018:2)  arsip adalah rekam informasi, terlepas dari media atau karakteristik, dibuat atau diterima oleh suatu organisasi yang berguna dalam operasi organisasi. Sedangkan menurut Richardo J. Alfaro (mantan presiden Panama) yang dikutip dari Galus dalam (Supriatna, 2018:2)  mengatakan bahwa pemerintah tanpa arsip ibarat seperti tentara tanpa senjata, dokter tanpa obat, petani tanpa benih, tukang tanpa alat, dan artis tanpa panggung. Perkataan Richardo J. Alfaro dapat kita maknai bahwa arsip merupakan alat vital bagi negara yang telah menjadi saksi berkembangnya suatu bangsa serta berpengaruh bagi kelangsungan suatu bangsa.

  1. Hubungan Sejarah dan Arsip

Dari sini kita bisa melihat benang merah antara arsip dengan sejarah, walaupun demikian penggunaan arsip sangat bergantung pada interpretasi pemimpin atau pemerintah yang akan menggunakannya untuk apa, arsip sangat akan berguna bagi siapa saja yang membutuhkan dan merupakan harta yang tak ternilai karena di mata hukum arsip dianggap alat bukti terhadap suatu kasus hukum yang dapat menguntungkan bagi siapa saja yang memilikinya, ibarat kita memiliki kendaraan roda empat, tanpa da surat-surat seperti STNK dan BPKB, maka mobil yang kita miliki akan dianggap “bodong”, alias barang yang ilegal yang suatu sat bisa terkena razia aparat kepolisisan, begitupun dengan kepemilikan tanah, banyak lembaga pemerintah misalnya sekolah yang harus tergusur oleh paara ahli waris karena mereka tidak memiliki akta jual beli, akta hibah, wakaf bahkan sertifikat dan harus kalah di pengadilan karena tidak memiliki dokumen resmi tentang kepemilikan tanah tersebut, bahkan di banyak kasus Mushola, mesjid, majlis taklim, madrasah Diniyah harus tergusur karena keberadaan bangunan di atas tanah digugat oleh ahli waris karena mereka tidak memiliki dokumen yang syah di mata hukum tentang kepemilikan tanah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa arsip yang merupakan dokumen resmi yang keberadaannya diakui di mata hukum sebagai dokumen yang memiliki kekuatan hukum. Oleh karena itu Pemerintah pusat dan daerah sudah saatnya untuk membenahi, memperbaiki, manata, Badan pengelola arsip ini dari mulai arsip Nasional hingga ke daerah disertasi dengan tenaga-tenaga  fungsional arsiparis yang handal, manajemen pengelolaan arsip yang handal, syarat dengan teknologi juga tunjangan yang memadai bagi arsiparis, juga yang tidak kalah pentingnya adalah tempat penyimpanan arsip yang memenuhi kaidah-kaidah penyimpanan arsip yang baik, apakah itu tempat arsip statis, dinamis, tempat retensi arsip di fasilitasi dengan baik dengan anggaran yang cukup, jenjang karier yang jelas.

  1. Penutup

Apabila  di hitung secara ekonomis memang arsip tidak menghasilkan keuntungan bagi negara berbeda dengan sektor bisnis yang di BUMN atau BUMD, yang terjadi adalah pemerintah pusat dan daerah atau lembaga pengelola arsip banyak mengeluarkan uang untuk pemeliharaan dan juga pembayaran honor SDM-nya. Arsip akan sangat berharga apabila suatu saat keberadaanya sangat dibutuhkan ketika bangsa Indonesia mengalami konflik dengan negara lain, atau terjadi perselisihan antara pemerintah dengan pihak swasta, atau bahkan antara lembaga pemerintah tentang klaim sepihak akan kepemilikan suatu aset. Sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak lembaga, departemen, kementrian, pemerintah provinsi dan Kabupaten kota yang susah mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari pihak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI karena masalah kepemilikan aset, terlebih daerah yang baru dimekarkan seperti Banten dengan pemprop jawa barat, pemerintah Kabupaten Serang dengan Kota Serang yang salah satu ganjalannya ada di aset, di mana aset tersebut belum diserah terimakan, karena dokumen belum mendukung salah satunya adalah masalah arsip ini.

Sumber:

Galus, B Senang. (2008). Urgensi dan Relevansi Arsip Kearsipan bagi Negara. Dinas Pendidikan Provinsi DIY.

UU No 43 Tahun 2009 mengenai Kearsipan

Ricks, Betty R., et al. (1992). Information and Image Management: A Records System Approach. Cincinati: South-Western Publishing Co.

Supriatna, E. (2028).Arsip sebagai official history. Serang : Artikel pada jikp.bantenprop.go.id.

 


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan